Greeneration Indonesia promote REACTS for solving Environmental Problems to reach a Sustainable Development.
Hasil dukungan dan donasi anda akan mewujudkan lingkungan yang lebih baik di Indonesia.
EVENTS
Lihat Events Agenda dalam ukuran besar >>
“Silahkan Bu, tas pengganti kantung plastik..”
Begitulah kalimat pertama yang biasa diucapkan untuk menarik perhatian pengunjung ke stand Greeneration Indonesia (GI) pada Jazzcraft Vaganza, Jumat-Minggu (9-11/7). Bertempat di Bale Pare, Kota Baru Parahyangan, Padalarang, acara ini diikuti sekitar 40 stand yang terdiri dari komunitas, seniman, design maker, termasuk Greeneration Indonesia.
Pada kesempatan tersebut, GI mengampanyekan pengurangan penggunaan kantung plastik dan menawarkan solusinya dengan baGoes. BaGoes merupakan tas yang dapat dipakai ulang (reusable bag), terbuat dari bahan laken dan nylon. Dibandingkan tas pakai ulang pada umumnya, baGoes bisa dilipat sehingga lebih praktis dan mudah dibawa.
Sebagian besar pengunjung stand GI adalah mereka yang sudah mulai peduli dengan bahaya kantung plastik dan memiliki kesadaran untuk mengurangi penggunaannya. Tidak hanya orang Indonesia, ekspatriat pun banyak yang datang ke stand GI dan bertanya-tanya tentang produk baGoes. Selain dipakai untuk keperluan sehari-hari, konsumen umumnya tertarik menjadikan baGoes sebagai kemasan bagi produk mereka atau untuk souvenir acara-acara yang akan mereka selenggarakan.
Jazzcraft Vaganza sendiri merupakan acara yang diselenggarakan oleh Kota Baru Parahyangan. Dengan memadukan live jazz, art exhibition, art-craft fair, serta workshop dan open studio, acara ini berhasil menyedot ratusan pengunjung setiap harinya. Beberapa artis yang turut mengisi live jazz adalah ESQI: EF Syaharani, Maya Hasan, dan Fariz RM.
Walaupun jumlah pengunjung hariannya masih jauh dari ekspektasi peserta pameran termasuk GI, acara yang berlangsung dari pukul 10.00-21.00 setiap harinya ini mampu memadukan live jazz dengan pameran serta workshop kesenian dengan baik. Semoga keikutsertaan GI dalam acara tersebut memberi dampak positif bagi pengunjung dan secara tidak langsung membantu pengurangan konsumsi kantung plastik. Mari mulai kurangi penggunaan kantung plastik dari sekarang! [RY]

Greeneration Indonesia on Jazzcraft Vaganza. Kota Baru Parahyangan, 9-11 Juli 2010
Ikatan Alumni ITB Angkatan 1973 (Forum Tujuh Tiga/Fortuga) mengadakan peringatan ‘37 Tahun Fortuga ITB’ di Museum Nasional, Jakarta, pada Sabtu (3/7). Selain sebagai ajang reuni, acara ini menjadi bentuk kepedulian Fortuga terhadap lingkungan. Dalam acara ini, sampah yang dihasilkan oleh pengunjung harus dipilah untuk kemudian dibuang berdasarkan jenis sampahnya. Pengunjung disarankan untuk membawa botol minum dan kantong sendiri untuk mengurangi konsumsi botol dan kantong plastik.
Greeneration Indonesia (GI) mendapat kesempatan untuk turut berpartisipasi dengan membuka stand di pameran yang diadakan. Dua produk baGoes dipamerkan yaitu laken dan nylon. Takakura dan bor biopori juga turut dipamerkan di stand. Selama pameran yang berlangsung dari pukul 09.30 - 16.30, stand GI ramai didatangi pengunjung. Walaupun tidak semua membeli produk baGoes, pengunjung tampak antusias dengan stand GI.
Melalui peringatan ‘37 Tahun Fortuga ITB’, GI menunjukkan dukungannya terhadap tema ramah lingkungan yang diangkat oleh Fortuga sekaligus mewujudkan kampanye pengurangan konsumsi kantong plastik (#plasticbagdiet). Semoga semakin banyak acara yang mengusung tema ramah lingkungan dan semakin meningkatkan kepedulian kita terhadap lingkungan.
Sering kita mendengar kata “perubahan iklim”, entah itu di media cetak, elektronik, atau mungkin di dunia perkuliahan atau pembicaraan sehari-hari, tapi apakah pemahaman kita mengenai hal tersebut sudah benar? Menurut definisi Kementerian Lingkungan Hidup (2001), perubahan iklim adalah berubahnya kondisi fisik atmosfer bumi antara lain suhu dan distribusi curah hujan yang membawa dampak luas terhadap berbagai sektor kehidupan manusia (dikutip dari http://iklim.dirgantara-lapan.or.id/).
Lalu apa saja penyebab terjadinya perubahan iklim ini? Penyebab utama sebenarnya adalah pembuangan emisi gas rumah kaca, namun hal yang masih banyak belum disadari manusia adalah sumbernya. Banyak yang mengira bahwa sumber utama gas rumah kaca adalah pembuangan pabrik, gas buang kendaraan, dsb. Semua ini ada benarnya karena industri menyebabkan sebagian besar emisi gas rumah kaca, tapi tahukah Anda bahwa ternyata, menurut World Watch Institute (November, 2009), industri peternakan menyumbang lebih dari 51% emisi gas rumah kaca secara global?
Emisi gas rumah kaca industri peternakan meliputi 9% karbon dioksida, 37% gas metana, 65% dinitrogen oksida, serta 64% amonia (dikutip dari http://perubahaniklim.net/). Gas metana memiliki efek pemanasan sebesar 72 kali lipat dari karbon dioksida, sementara dinitrogen oksida efek pemanasannya 296 kali lebih kuat dari karbon dioksida. Amonia sendiri adalah salah satu penyebab dari hujan asam. Melihat fakta ini, mungkin kita tidak percaya bahwa industri yang paling banyak dikonsumsi sehari-hari ini ternyata adalah industri penyumbang emisi gas terbesar secara global. Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi dampak perubahan iklim ini?
Dampak perubahan iklim ini sebenarnya merupakan dampak dari apa yang sudah menjadi gaya hidup kita selama bertahun-tahun dan kita rasakan belakangan ini. Oleh karena itu, kita sebenarnya perlu mengubah gaya hidup kita. Memang tidak akan pernah mudah untuk mengubah gaya hidup, apalagi menghilangkannya sama sekali. Walaupun begitu, kita bisa mengubahnya sedikit demi sedikit dengan niat yang kuat dan sebuah kesinambungan. Berkaitan dengan industri peternakan yang biasanya menghasilkan produk daging (sapi, kambing, babi, atau ayam), telur, serta susu, mungkin kita bisa mulai dengan mengurangi konsumsi daging kita sehari-hari.
Ternyata pola makan dengan konsumsi daging yang dikurangi ini sudah mulai diadopsi oleh beberapa negara di dunia, seperti di Taiwan yang mengadopsi pola makan vegetarian di beberapa sekolah, di Swedia yang mempromosikan pola makan vegetarian melalui badan pengawasan makanannya, demikian pula di Filipina dan Irlandia yang sudah mulai mempromosikan pola makan ramah lingkungan ke beberapa sekolah. Usaha yang diterapkan ke generasi muda ini memang cukup memungkinkan untuk berhasil, mengingat pola makan ramah lingkungan ini akan tertanam ke dalam benak mereka sejak dini. Pola makan ini akan berubah menjadi sebuah kebiasaan di masa yang akan datang.
Saya tidak menganjurkan Anda untuk menjadi vegetarian dengan tidak mengkonsumsi daging sama sekali karena saya pribadi menganggap daging, khususnya sapi dan kambing, adalah makanan yang nikmat. Kita bisa memulainya dengan cara mengurangi konsumsinya sehari-hari. sebagai contoh, katakanlah biasanya kita memakan daging sapi sebanyak tiga kali seminggu, mungkin kita bisa kurangi menjadi dua kali seminggu. Dengan mengubah pola makan kita seperti ini, kita akan mengurangi dampak dari perubahan iklim walaupun tentunya tidak akan terjadi secara instan. Bila Anda memang niat menjadi vegetarian, silakan saja. Anda bisa membawa dampak yang lebih bermakna dibandingkan teman-teman Anda.
Setelah Anda mengetahui bahwa industri peternakan ternyata penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca, apakah Anda masih mau terlibat dalam prosesnya? Mungkin memang saat ini sudah terlalu terlambat untuk menghentikannya, tetapi sama sekali belum terlambat untuk mengurangi atau memperlambat dampaknya! Kita masih bisa mendukung dan menyelamatkan bumi serta diri kita sendiri dengan mengubah gaya hidup kita menjadi gaya hidup yang lebih ramah lingkungan. Oleh karena itu, mari mulai saat ini kita kurangi konsumsi daging ternak kita sehari-hari!
[KPA]

Greeneration Indonesia on Fortuga, Museum Nasional, 3 Juli 2010. Lets spread #plasticbagdiet :D
Don’t blow it — Good planets are hard to findQuoted in Time
Idealnya, sejak memasuki bulan April, negara tropis seperti Indonesia sudah mengalami musim kemarau. Namun, di beberapa daerah, hujan terkadang masih turun, baik gerimis maupun yang disertai angin kencang.
Pada dasarnya, planet yang kita tempati ini selalu mengalami perubahan iklim dari waktu ke waktu. Dahulu, perubahan tersebut berlangsung secara alami. Faktor manusia cenderung tidak berperan dalam hal ini. Sekarang, perubahan iklim berlangsung dengan sangat cepat dan drastis.Tidak bisa dipungkiri, ulah manusia turut berperan dalam perubahan iklim kini.
Secara global, perubahan iklim bumi disebabkan oleh penuhnya atmosfer bumi oleh gas rumah kaca, misalnya karbon dioksida dan metana. Karbon dioksida dihasilkan dari sisa-sisa pembakaran seperti bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara), sedangkan metana dapat dihasilkan dari hewan ternak. Menurut penelitian, metana ternyata menghasilkan gas rumah kaca yang lebih besar dibandingkan karbon dioksida.
Cara mengatasi perubahan iklim bisa dimulai dengan menerapkan gaya hidup ramah lingkungan. Gaya hidup ramah lingkungan adalah sikap dan pola konsumsi yang ramah lingkungan. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan untuk memulai gaya hidup ramah lingkungan:
1. Periksa kondisi kendaraan. Kendaraan dalam kondisi yang baik akan lebih hemat dalam penggunaan bahan bakar. Jika memungkinkan, gunakan kendaraan umum atau sepeda sebagai pengganti kendaraan bermotor agar lebih mengurangi pembakaran dan ramah lingkungan.
2. Cuci baju dengan air biasa. Penggunaan air panas untuk mencuci baju membutuhkan energy yang lebih besar, padahal hasil mencuci dengan air biasa maupun air panas adalah sama untuk sebagian besar jenis pakaian.
3. Lepaskan kabel peralatan elektronik yang sedang tidak digunakan. Walaupun alat dalam keadaan mati, listrik masih akan mengalir jika kabel belum dilepas. Ada baiknya sebelum meninggalkan ruangan, periksa kembali apakah semua peralatan elektronik yang tidak digunakan telah dimatikan dan listrik sudah tidak ada yang mengalir.
Sudah saatnya kita menerapkan gaya hidup ramah lingkungan. Walaupun dampaknya belum tentu bisa dirasakan langsung, setidaknya kita telah membantu pelestarian bumi sebagai investasi bagi anak cucu kita nanti. Mari lakukan dari sekarang! [RY]
“Everything is one. Everything is connected.”
One of the three pillars of Cianjur was Maenpo, the martial art techniques. Last month, I happened to have the honor to do research about Maenpo Cikalong, one of the Maenpo there, or nationally speaking, one of the forms of Silat, Indonesian traditional martial art.
Maenpo Cikalong was found by a man called Mamah Haji Ibrahim. His real name was Raden Jayaperbata, one of the heirs in the kingdom of Cianjur. In the 18th century, He already mastered seventeen forms of martial art. Yet he was still feeling anxious, due to the fact that every one of them was using a destructive way of winning from the opponent. They were meant to kill anyone who attacks.
He then went learning to four teachers (three in Batavia, one in Shahbandar, Cianjur) and meditated in a Cave, before he found the movements of Silat Cikalong. He constructed it by putting together the basic elements from what each teacher had taught him.
The first one is Madi, a movement to hold back the opponent’s will to attack. Then there’s Shahbandar, a movement to transform the will to attack into the will to back off. The last is Kari, a finishing technique which would never do any harm to the attackers.
One point among many principles that Silat Cikalong has, was explained by the third move. No harm will ever be done to anybody who attacks. Its movements would never be aimed to take one single life, because it appreciated the existence of the soul inside the body. It believed that only God could take human’s life, not other human.
After I did another research about other forms of Silat in Indonesia, I found out that basically most of them are teaching the same thing. Even though the actual energy coming from the movements could be deadly, the Silat owners never taught their students to do deadly deeds. They believe that nature is made with their own system, and humans are made to get along with the system, not to destroy it. The brain given to them was meant to provide a development for the system to run in a better way. After all, have we ever sign a contract or MOU which doesn’t have the Force Majeur sections? Nobody can ever survive if they work against nature.
Why am I blabbering about this in a greeneration page, you may ask?
I believe that the principle of Silat to keep the balance of the soul living on earth is very applicable to the effort of keeping the earth green. If only everyone would just quit the habit of destructing the balance of nature, chemical substances and energies wouldn’t even have the chance to be produced. Just check out any Indonesian Grand Master of Silat’s house, were it built exaggeratedly without concerning about mother earth’s health? Were there any usages of highly chemical substances? Were there any junk food leftovers in the fridge? No. It’s as simple as maintaining a healthy, balanced, and simple lifestyle.
And it’s also only a matter of morals and point of views. Preserving Silat could be one of the ways to educate a human being to appreciate nature as it is. It delivers individuals with intellectual, emotional, physical and spiritual balance. Now what would make these kinds of individuals still litter in random places, moreover build an environmentaly dangerous businesses? If only they’d put it as an extracurricular programs in the schools. Or maybe instead of learning Kungfu, our national army could begin their daily routine by doing Silat trainings. And maybe instead of yoga club, our high end society could start their Silat community.
But then, we were raised in a skeptical society, which would categorize these following sentence as proper, “Keep imagining, Honey. Money always talks. There are people out there who are more powerful than you to keep what you’ve been writing as a discourse that would never happen.” What can I say? The seductive power of money, pride and power could never beat the sanctity of stupid morals. Human and their stupidity. I just pray that it is not the same for the optimists. They’d say positive things for “The Coins for Prita” movement. We live in a democratic country as far as we can remember. So why not give it a try?
Taqarrabie.
taqarrabie@yahoo.com
www.interruptedtaqarrabie.blogspot.com
Kali ini kita memasuki topik diskusi ‘Wetlands Issue’ atau yang lebih dikenal dengan masalah ketersediaan area lahan basah yang semakin kecil. Meskipun begitu, ternyata sampai sekarang masih banyak yang belum kenal dengan masalah lingkungan yang satu ini ya?? Sama kok, ketika kami lihat kalender lingkungan tertera ada keterangan ‘Hari Lahan Basah Sedunia’, kami jadi bertanya-tanya apa sih definisi lahan basah ini dan kenapa ada hari peringatannya dan pada akhirnya kami googling satu persatu tentang informasi masalah lahan basah ini.
Okay, sekarang kita mulai dulu dari definisi lahan basah menurut Konvensi Lahan Basah atau dikenal sebagai Konvensi Ramsar yang ditandatangani pada tanggal 2 Februari 1971 di Kota Ramsar yang terletak di pantai laut Kaspia, Iran. Lahan basah adalah
daerah rawa, payau, lahan gambut, dan perairan. Lahan basah bisa terjadi secara alami atau buatan. Mengenai sifat airnya dapat tetap atau sementara. Begitu pula dengan daerah air tawar, payau atau asin dan wilayah perairan laut yang kedalamannya tidak lebih dari 6 meter pada saat air surut termasuk lahan basah juga.
