Loading . . .

Panel Surya dan Potensi Energi Terbarukan di Indonesia

Seberapa sering Generasi Hijau melihat panel surya di Indonesia? Baik di lahan luas atau gedung, energi surya agaknya belum banyak dilirik. Hal ini dikarenakan pembangkit listrik kita masih berpusat pada bahan bakar fosil, dan transisi menuju instalasi energi terbarukan dalam skala besar masih terhalang pendanaan, ketersediaan lahan, dan tentu saja, regulasi berbelit. Padahal, Indonesia harus memenuhi komitmen mengurangi emisi karbon sebesar 29% – 41% pada tahun 2030.

Kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. (Sumber: ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi)

Di seluruh dunia, pemerintah dan berbagai pembuat kebijakan sedang mempertimbangkan cara mengimplementasikan “transisi yang berkeadilan” dari batu bara ke energi terbarukan. Usaha tiap negara mulai terlihat di kenaikan instalasi energi terbarukan di dunia hingga 200 gigawatt (umumnya dari panel surya) pada 2019. Dalam lima tahun berturut-turut, energi terbarukan menggantikan instalasi batu bara dan nuklir. Secara umum, kapasitas energi terbarukan yang sudah ada dapat menghasilkan kurang lebih 27,3% listrik dunia pada akhir 2019 (REN21, 2020).

Menurut penelitian yang dilakukan kandidat doktor Australian National University David Firnando Silalahi tentang skenario Indonesia menghasilkan 100% listrik dari energi terbarukan, ia menemukan bahwa negara ini memiliki potensi untuk menghasilkan listrik sebesar 640.000 Terrawatt per jam (TWh) per tahun dari energi matahari. Sebagai perbandingan, produksi tenaga listrik nasional tercatat sebesar 272,42 TWh pada 2020. 

90% dari produksi tenaga listrik Indonesia utamanya bersumber dari batu bara. Bahan bakar fosil ini dianggap paling low-maintenance dan efisien, seperti dikutip dari Financial Times. Selain dianggap mahal dan minimnya ketersediaan lahan, pengembangan energi terbarukan di Indonesia masih terhalang kepentingan elit politik yang didukung industri batu bara.

Meski begitu, penelitian dari Carbon Tracker menemukan bahwa pembangunan panel surya atau instalasi photovoltaic (PV) akan lebih murah di tahun 2020-2022 dibanding membangun pembangkit listrik tenaga batu bara baru. Tahun 2027-2028, akan lebih murah membangun instalasi PV baru dibanding menjalankan pembangkit listrik yang sudah ada. Tidak seperti yang digadang-gadang bahwa cadangan batu bara Indonesia masih ada hingga 40 tahun ke depan, studi yang sama juga mengatakan, Indonesia terancam rugi 35 miliar dolar ketika nilai investasi batu bara turun 15 tahun lagi. 

 
PLTS di Desa Oelpuah, Kupang, Nusa Tenggara Timur. (Sumber: detikFinance/Eduardo Simorangkir)

Berikut alasan mengapa energi surya dapat menjadi jawaban untuk transisi dari tenaga batu bara.

Sinar Matahari Sepanjang Tahun

Sebagai negara di garis khatulistiwa, Indonesia punya sinar matahari berlimpah sepanjang tahun. Namun pada praktiknya, di Indonesia energi surya hanya menghasilkan 0,04% dari total produksi energi. Jumlah kapasitas energi surya di Indonesia pada akhir 2019 bahkan lebih kecil dibandingkan Singapura, negara paling kecil di Asia Tenggara, menurut International Renewable Energy Agency (IRENA), sebuah lembaga internasional yang fokus pada pengembangan energi terbarukan.

Dilihat dari usaha transisinya, Indonesia masih perlu banyak belajar pada Jerman. Negara subtropikal ini telah memproduksi 50% kebutuhan listrik negaranya dari energi surya. Dari 177 Gigawatt (GW) yang diproduksi seluruh dunia, Jerman menghasilkan 38,2 Gigawatt-nya. Meski tidak punya sinar matahari sepanjang tahun, Jerman punya target untuk mengganti seluruh sumber energi listriknya dari bahan bakar fosil menjadi surya dan energi terbarukan lain di tahun 2050. Transisi ini memang butuh waktu lama dan usaha penuh untuk mewujudkannya.

 

Ketersediaan Lahan

Penelitian David Silalahi menunjukkan bahwa pemasangan tenaga surya untuk memenuhi target Indonesia untuk mencapai 1,500 gigawatt (GW) pembangkit listrik tenaga surya pada 2050 akan membutuhkan setidaknya 8.000 kilometer persegi atau sekitar 0,4% lahan. 

PLTS Atap di Gedung Chairul Saleh, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). (Sumber: Kementerian ESDM)

0,4% mungkin bukan angka yang signifikan. Namun angka ini belum memperhitungkan pengelolaan lahan yang dibawahi pemerintah pusat dan daerah. Hambatan dalam pengadaan lahan ini dapat diatasi dengan mengintegrasikan panel surya di atap bangunan. Metode ini tak hanya disarankan bagi gedung perkantoran, bisa juga pada perumahan.

Penampung Daya Melalui Energi Hidro

Pertimbangan lain dari pembangkit listrik tenaga surya ialah ketika sumber energinya sedang minim, seperti saat malam atau mendung. Kelebihan daya yang didapat ketika  bisa ditampung dalam penyimpanan energi hidro terpompa (pumped hydro energy storage – PHES). Menurut Energy Storage Systems, PHES menyumbang 97% penyimpanan energi seluruh dunia karena teknologi ini yang paling murah dari penyimpanan skala besar, dengan masa pakai operasi mencapai 50 tahun atau lebih. Mayoritas sistem PHES berada di lembah sungai dan dihubungkan sistem listrik tenaga hidro. Namun, PHES di luar sungai mempunyai potensi yang lebih besar karena semakin banyak situs potensial yang jauh dari sungai.

PLTA Saguling yang bersumber dari Sungai Citarum, sebagai penampung energi hidro untuk listrik Jawa Barat. (Sumber: ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)

Menurut riset yang dilakukan Andrew Blakers dari Australian National University, kebutuhan air tahunan dari jaringan listrik terbarukan 100% yang didukung PHES akan jauh lebih sedikit dibanding sistem fosil saat ini karena angin dan PV tidak membutuhkan air pendingin. PHES, baterai, dan manajemen permintaan kemungkinan akan berperan penting ketika jaringan listrik Indonesia beralih total ke energi terbarukan.

Menggunakan energi terbarukan yang ramah lingkungan, minim emisi, dan di saat yang sama juga minim tarif pasti akan memudahkan kita ya, Generasi Hijau. Sampai panel surya jadi hal umum di Indonesia, selagi menerapkan konsumsi dan produksi berkelanjutan, yuk kita minimalisasi penggunaan listrik yang tidak dibutuhkan.

Referensi

Asian Development Bank. (2019, Agustus 2). New Wind Farm, Electricity Grid Strengthening Projects Are Helping Indonesia Meet its Ambitions in Clean Energy, Access. Retrieved from https://www.adb.org/news/features/new-wind-farm-electricity-grid-indonesia-clean-energy-access

Aziz, S. Z., & Malessy, A. C. (2020, November 6). Indonesia Looks To Foster Development Of Rooftop Solar Panels. Retrieved from https://www.mondaq.com/renewables/1002382/indonesia-looks-to-foster-development-of-rooftop-solar-panels

Blakers, A. (2014, Juli 9). How pushing water uphill can solve our renewable energy issues. Retrieved from The Conversation: https://theconversation.com/how-pushing-water-uphill-can-solve-our-renewable-energy-issues-28196

Blakers, A. (2017, September 25). Tenaga surya kini sumber listrik terpopuler di dunia. Retrieved from The Conversation ID: https://theconversation.com/tenaga-surya-kini-sumber-listrik-terpopuler-di-dunia-84307

Blakers, A., Lu, B., & Stocks, M. (2018, Mei 3). Indonesia miliki banyak tempat penyimpanan energi hidro untuk sokong 100% listrik terbarukan. Retrieved from The Conversation ID: https://theconversation.com/indonesia-miliki-banyak-tempat-penyimpanan-energi-hidro-untuk-sokong-100-listrik-terbarukan-95062

Briggs, C., Dominish, E., & Mey, F. (2019, Juni 10). Bagaimana transisi dari batu bara: 4 pelajaran dari penutupan pembangkit di berbagai negara. Retrieved from The Conversation ID: https://theconversation.com/bagaimana-transisi-dari-batu-bara-4-pelajaran-dari-penutupan-pembangkit-di-berbagai-negara-118520

Carbon Tracker. (2018). Economic and financial risks of coal power in Indonesia, Vietnam and the Philippines. Carbon Tracker.

Christiningrum, R. (2018). Pengembangan Energi Baru Terbarukan Masih Terkendala Regulasi. Buletin APBN Edisi 5 Vol. III. Maret 2018, 3-8.

Dunne, D. (2019). The Carbon Brief Profile: Indonesia. Carbon Brief.

Energy Storage Systems Program. (2020). Global Energy Storage Database. Albuqurque: Energy Storage Systems Program.

International Energy Agency. (2020). SDG7: Data and Projections. Paris: International Energy Agency.

International Renewable Energy Agency. (2020). Solar Energy Data. International Renewable Energy Agency.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. (2019). Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional. Jakarta: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. (2019). Statistik Ketenagalistrikan Tahun 2018: Edisi No. 32 Tahun Anggaran 2019. Jakarta: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. (2020). Handbook of Energy and Economic Statistics of Indonesia. Jakarta: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Kennedy, S. F. (2020, Juli 6). Bagaimana ketersediaan lahan menjadi tantangan dalam pengembangan energi terbarukan di Indonesia. Retrieved from The Conversation ID: https://theconversation.com/bagaimana-ketersediaan-lahan-menjadi-tantangan-dalam-pengembangan-energi-terbarukan-di-indonesia-141975

Krismantari, I. (2021, Februari 2). Politik dan pandemi buyarkan mimpi energi terbarukan Indonesia. Retrieved from The Conversation ID: https://theconversation.com/politik-dan-pandemi-buyarkan-mimpi-energi-terbarukan-indonesia-153891

Menghwani, V., Zerriffi, H., & Pai, S. (2019, April 4). Tanpa perencanaan yang baik, masa depan infrastruktur energi terbarukan tak menentu. Retrieved from The Conversation ID: https://theconversation.com/tanpa-perencanaan-yang-baik-masa-depan-infrastruktur-energi-terbarukan-tak-menentu-114633

Setya Budi, R. F., & Suparman. (2013). Perhitungan Faktor Emisi CO2 PLTU Batu Bara dan PLTN. Jurnal Pengembangan Energi Nuklir, 1-8.

Shalal, A. (2019, January 27). Germany to move ahead quickly on implementing coal exit. Retrieved from Reuters: https://www.reuters.com/article/us-energy-coal-germany/germany-to-move-ahead-quickly-on-implementing-coal-exit-idUSKCN1PL001

Silalahi, D. F. (2020, April 22). 100% Renewable Energy | ANU. Retrieved from RE100 – ANU: http://re100.eng.anu.edu.au/news/2020-04-22.php

Silalahi, D. F. (2020, April 22). Riset prediksi Indonesia bisa hasilkan 100% listrik dari tenaga surya pada tahun 2050. Retrieved from The Conversation ID: https://theconversation.com/riset-prediksi-indonesia-bisa-hasilkan-100-listrik-dari-tenaga-surya-pada-tahun-2050-136879

 
 
Penulis: Melisa Qonita Ramadhiani

Support Organization

Support Specific Program

Subscribe

* indicates required