Loading . . .

Pemetaan Karakteristik Masyarakat di Sekitar Bantaran Sungai Citarum

oleh Farid Lisniawan Muzakki, pemenang Citarum Repair Writing Competition (Kategori Bahasa Indonesia)

Sungai Citarum
Sungai Citarum. Sumber foto: CNN Indonesia

Permasalahan sampah merupakan akibat yang ditimbulkan oleh aktivitas manusia, dan hal tersebut sangat erat kaitannya dengan masyarakat. Kegiatan sehari-hari manusia, baik dalam skala rumah tangga maupun industri, dapat menghasilkan sampah yang tidak sedikit jumlahnya. Sampah tersebut harus diolah terlebih dahulu agar tidak mencemari lingkungan dan menimbulkan masalah baru. Namun kenyataannya di lapangan, masih ada orang-orang yang tidak bertanggung jawab terhadap sampahnya dan membuang begitu saja. Hal tersebut menyebabkan pencemaran lingkungan, salah satunya adalah pencemaran sungai dan laut.

Sebagai sungai terpanjang dan terbesar di Provinsi Jawa Barat, Sungai Citarum tidak lepas dari permasalahan sampah. Sungai Citarum melewati 13 wilayah kabupaten/kota dan berdekatan dengan banyak pemukiman dan kawasan industri. Dengan kondisi geografis tersebut, besar kemungkinan terjadinya pencemaran sungai oleh pihak-pihak tertentu. Bahkan pada tahun 2018, Sungai Citarum dinobatkan sebagai sungai terkotor di dunia oleh World Bank. Banyak hal yang menyebabkan tercemarnya Sungai Citarum, seperti limbah domestik rumah tangga, limbah peternakan, limbah industri, dan tumpukan sampah padat.

Menurut Kepala LPTB LIPI Sri Priatni, sumber pencemaran terbesar Sungai Citarum berasal dari limbah domestik rumah tangga dengan presentase 60-70%. Permasalahan limbah domestik ini tidak terlepas dari kelayakan sanitasi masyarakat di bantaran sungai. Kehidupan masyarakat dengan sanitasi yang buruk menyebabkan limbah produk rumah tangga dan feses manusia terbuang begitu saja ke perairan tanpa diproses terlebih dahulu.

Banyaknya peternak yang bermukim di bantaran Sungai Citarum meningkatkan kemungkinan terjadinya pencemaran sungai. Limbah ternak yang tidak diolah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis dan dibuang langsung ke sungai menjadi permasalahan baru. Bersama dengan limbah feses manusia, limbah peternakan menyebabkan tingginya total bakteri E. coli pada Sungai Citarum. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam British Medical Journal menjelaskan bahwa bakteri E. coli dapat membawa penyakit serius bagi manusia, seperti diare bercampur darah, tekanan darah tinggi, gangguan ginjal, dan penyakit jantung.

Kawasan industri juga turut bertanggung jawab atas pencemaran Sungai Citarum. Dari seluruh industri yang ada di bantaran Sungai Citarum, hanya sekitar 20% saja yang mengolah limbah mereka, sedangkan sisanya langsung membuang limbah ke perairan tanpa pengawasan dan tindakan dari pihak berwenang (Tribunnews, 09/07/2018). Limbah berbahaya yang masuk ke Sungai Citarum dari kawasan industri menimbulkan kerugian bagi masyarakat, mulai dari bau yang tidak sedap, kematian biota air tawar, hingga terjadinya gagal panen bagi petani. Bahkan menurut Greenpeace, total kerugian ekonomi akibat tercemarnya Sungai Citarum pada tahun 2016 adalah sekitar Rp 11,4 triliun.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi pencemaran Sungai Citarum, salah satunya melalui program Citarum Harum. Program tersebut dilaksanakan oleh Satgas PPK DAS Citarum dengan payung hukum Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Derah Aliran Sungai Citarum. Salah satu strategi yang dilakukan adalah dengan menyisir anak sungai dan sungai Citarum untuk membersihkan tumpukan sampah padat dan mengidentifikasi beberapa saluran yang berisi limbah pencemar. Komandan Satgas Citarum Harum Sektor 13, Kolonel Inf Nazwadi Irham menyatakan bahwa kondisi anak Sungai Citarum mulai mengalami perubahan cukup signifikan setelah patroli dilakukan. Selain itu, pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah berhasil menyeret beberapa perusahaan yang terbukti mencemari Sungai Citarum ke pengadilan. Namun strategi tersebut masih belum dapat sepenuhnya mengubah kebiasaan masyarakat dan mengindentifikasi saluran yang berada di bawah permukaan air.

Untuk mengatasi masalah pencemaran Sungai Citarum, pemerintah harus menyasar akar dari permasalahannya, yaitu aktivitas manusia. Setiap Pemerintahan Daerah (Pemda) perlu memetakan kegiatan apa saja yang dilakukan oleh masyarakat di sekitar bantaran Sungai Citarum, mulai dari kegiatan rumah tangga, peternakan, maupun industri. Kemudian Pemda mengidentifikasi kemana perginya sampah-sampah yang dihasilkan dari kegiatan tersebut. Hasil pemetaan alur perginya sampah dari masing-masing Pemda disatukan oleh Pemerintahan Provinsi (Pemprov) untuk mendapatkan gambaran utuh mengenai aktivitas masyarakat di sekitar bantaran Sungai Citarum dari hulu hingga bermuara di laut.

Pemda bersama Satgas Citarum Harum dapat melakukan inspeksi mendadak ke industri di sekitar bantaran sungai untuk mengidentifikasi alur pembuangan limbah dan mengukur kandungan bahan kimia berbahaya yang terkandung didalamnya. Stategi ini lebih efektif untuk menemukan saluran-saluran tersembunyi yang mencemari Sungai Citarum. Perusahaan yang ditemukan melakukan pencemaran sungai dapat langsung diproses secara hukum.

Gambaran aktivitas masyarakat tersebut merupakan landasan dasar dari setiap program yang akan dijalankan. Pemerintah dapat membuat beberapa titik lokasi bank sampah dan Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) bersama. Berdasarkan hasil pemetaan, pemerintah juga dapat mengidentifikasi karakteristik sampah di suatu daerah dan menentukan jenis bank sampah dan IPAL yang tepat. Pembangunan IPAL bersama akan memudahkan pelaku industri, khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah yang tidak memiliki dana cukup untuk membangun IPAL sendiri. Daerah dengan fasilitas kebersihan yang kurang memadai bisa teridentifikasi dari hasil pemetaan, sehingga perencanaan pembangunan atau pengadaan fasilitas menjadi lebih tepat sasaran.

Aktivitas masyarakat dapat berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya, tergantung pada budaya dan nilai yang dipegang oleh masyarakat daerah tersebut. Pemetaan kegiatan masyarakat berarti juga pemetaan kebiasaan dan perilaku masyarakat. Hal tersebut dapat digunakan sebagai pedoman dalam pembuatan materi edukasi sehingga dapat tersampaikan secara optimal. Materi edukasi yang tepat sasaran akan mempermudah Satgas dalam mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk yang ada di masyarakat. Selain itu, dari kebudayaan yang berlaku dapat diketahui siapa sosok yang dihormati di daerah tersebut. Menjadikan tokoh masyarakat sebagai pemberi edukasi dan pengawas kebersihan sungai dapat mendukung pemerintah untuk mencapai tujuan program Citarum Harum.

Pemerintah melalui Satgas Citarum Harum tidak mampu mengendalikan pencemaran dan kerusakan Sungai Citarum sendirian, komunitas dan masyarakat yang berada di sekitar bantaran sungai harus bergotong royong membantu menjaga kelestarian Sungai Citarum. Pencemaran Sungai Citarum bukanlah sebuah masalah sederhana, perlu adanya penanganan yang terencana dan tepat sasaran serta melibatkan seluruh elemen masyarakat. Dengan penanganan yang sesuai dengan karakteristik masyarakat sasaran, program Citarum Harum akan berjalan lebih efektif dan optimal.

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Subscribe

* indicates required