Bangunan Hijau Masa Depan Pembangunan Indonesia

Foto 1. Bangunan Hijau (Jwvanec / Unsplash)

Bangunan adalah salah satu kebutuhan pokok yang sangat penting untuk kita. Kita membutuhkan bangunan sebagai rumah tempat keluarga bernaung, sekolah tempat kita menuntut ilmu, tempat ibadah untuk memuja Tuhan, gedung perkantoran untuk mencari nafkah, hingga berbagai sarana hiburan. Hampir seluruh aspek kehidupan kita sangat bergantung pada keberadaan bangunan. 

Tingginya kebutuhan akan bangunan ternyata juga menimbulkan masalah lingkungan seperti perubahan iklim. Hal ini terjadi karena alih fungsi lahan pertanian hingga hutan, penggunaan desain dan material bangunan yang tidak ramah lingkungan, serta pemborosan energi sehingga merusak keseimbangan alam yang semakin meningkatkan suhu bumi. Seperti yang baru-baru ini terjadi, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kembali mengumumkan peringatan cuaca panas yang akan mencapai 33⁰C-36⁰C pada bulan Mei ini yang menandakan awal musim kemarau. Menyelesaikan masalah ini, bangunan hijau (green building) hadir sebagai solusi untuk menyelaraskan kebutuhan manusia dan keberlanjutan lingkungan. Seperti apa bangunan hijau yang benar-benar berkelanjutan?

Kriteria Bangunan Hijau

Foto 2. Menara BCA (flokq.com)

Bangunan hijau memang bukan solusi baru untuk menciptakan bangunan yang ramah lingkungan. Bangunan hijau adalah konsep arsitektur yang mengutamakan aspek keberlanjutan lingkungan untuk menciptakan sebuah bangunan yang hemat energi, air, dan minim gas rumah kaca. Dalam pembangunannya, efisiensi dan kebijaksanaan dalam penggunaan material dan pemanfaatan tata ruang harus diperhitungkan dan dirancancang dengan matang. Di Indonesia konsep ini mulai dikembangkan oleh beberapa arsitek ternama seperti Heinz Frick, Y.B. Mangun Wijaya, Eko Prawoto sejak tahun 1980.

 

Untuk membangun bangunan hijau, ada standard dan kriteria yang harus dipenuhi. Di Indonesia, sistem standarisasi ini diurus oleh Green Building Council Indonesia (GBC Indonesia). Lembaga ini menawarkan beberapa pilihan sertifikasi bangunan. Salah satu yang diunggulkan untuk benar-benar mengurangi dampak lingkungan adalah Net Zero Healthy. Bangunan yang memperoleh sertifikasi ini harus memenuhi kriteria seperti efisiensi energi, konservasi air, pengembangan lokasi yang tepat guna, penggunaan material daur ulang dan pengelolaan sampah, kualitas udara dan kenyamanan yang baik, serta pengelolaan lingkungan gedung. Kriteria tersebut menuntut pengembang untuk memerhatikan akses transportasi rendah emisi, ketersediaan lahan terbuka hijau, penggunaan energi terbarukan seperti panel surya, manajemen dan pengaturan sistem penggunaan air, menggunakan bahan baku ramah lingkungan, pengukuran kualitas udara, serta perawatan bangunan. 

Pro Kontra Solusi Bangunan Hijau

Foto 3. Ilustrasi Berpikir Hijau (Vanatchanan / Shutterstock)

Sebagai solusi bangunan yang ramah lingkungan, pro dan kontra dalam penerapannya masih menjadi tantangan yang harus dihadapi. Bangunan hijau dianggap lebih baik untuk kesehatan lingkungan karena mengurangi emisi karbon, polusi udara, menerapkan konsep pengelolaan sampah yang bertanggung jawab, menggunakan energi terbarukan, dan efisiensi penggunaan energi.

 

Di sisi lain, penerapannya masih belum maksimal dan meluas karena mahalnya biaya pembangunan dan perawatan, kemampuan tenaga arsitek dan konstruksi yang terbatas, dan keterbatasan teknologi. Tantangan ini membuat konsep bangunan hijau lebih banyak diterapkan untuk membangun bangunan industri dari pada hunian pribadi. Selain itu, satu hal yang masih sering diabaikan dari penerapan konsep bangunan hijau adalah “apa yang tergantikan dari pembangunan bangunan hijau”. Konsep ini tentunya tidak bisa dikatakan benar-benar ramah lingkungan jika pembangunannya membuka lahan baru yang menggantikan fungsi lahan pertanian, ladang hijau, bahkan hutan. 

Bangunan Hijau di Indonesia

Foto 4. Gedung Mina Bahari IV Kementerian Kelautan dan Perikanan (Kabar nusa.com)

Di Indonesia, sudah ada beberapa bangunan yang menerapkan konsep bangunan hijau di beberapa kota besar di Indonesia. Kebanyakan adalah bangunan industri dan pemerintahan. Bangunan yang telah menerapkan konsep ini dan mendapatkan sertifikasi baik dari GBCI ataupun lembaga sertifikasi Internasional lainnya seperti LEED adalah Menara BCA, gedung kementerian PUPR, dan Mina Bahari IV milik Kementerian Kelautan dan Perikanan. Bangunan-bangunan tersebut memperoleh sertifikasi GBCI karena berhasil menghemat penggunaan air dan listrik sekitar 30%-70% sehingga hemat energi. Kenyamanan, ketersediaan sistem pengelolaan sampah yang bertanggung jawab, dan ketepatan guna lahan juga menjadi faktor penentu perolehan sertifikasi.

 

Meskipun konsep ini belum diterapkan dengan sempurna di banyak tempat, arah pembangunan di Indonesia harus mulai bergerak menggunakan konsep ini untuk menciptakan kota maupun desa yang berkelanjutan. penerapan konsep ini juga menjadi bagian dari upaya mewujudkan konsumsi dan produksi berkelanjutan di Indonesia.

 

Ingin terlibat lebih jauh untuk membangun Indonesia yang berkelanjutan? Bergerak bersama kami jadi generasi hijau sekarang!

Author :

Aviaska Wienda Saraswati

Aviaska Wienda Saraswati

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Berlangganan

* Diperlukan