Dampak Sampah Terhadap Emisi Gas Rumah Kaca

Ilustrasi Tempat Pembuangan Akhir
Ilustrasi Tempat Pembuangan Akhir. (Sumber: Zibik/Unsplash)

Selama ini, jarang terdengar bagaimana sampah bisa terkait dengan perubahan iklim. Padahal, jika tidak terkelola dengan baik, sisa konsumsi dan produksi kita dapat menjadi sampah yang menyumbang gas metana. Gas metana merupakan salah satu Gas Rumah Kaca (GRK) yang dapat menyebabkan efek rumah kaca, yang lebih lanjut lagi mendorong pemanasan global (global warming).

Arie Herlambang dalam penelitiannya mengenai gas metana dari hasil pengelolaan sampah menyebutkan, saat ini terdapat kurang lebih 450 Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di kota besar dengan sistem open dumping. Sistem ini membiarkan sampah dibuang begitu saja di TPA, sehingga sampah akan menggunung dan rawan longsor.

Ia mengatakan bahwa potensi sampah yang diperoleh merupakan sampah yang dihasilkan dari 45 kota besar di Indonesia dan mencapai 4 juta ton/tahun. Potensi gas metana yang bisa dihasilkan dari sampah tersebut mencapai hingga 11.390 ton CH4 / tahun atau setara dengan 239.199 ton CO2 / tahun. Jumlah ini merupakan 64% dari total emisi sampah yang berasal dari 10 kota besar di Indonesia: Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Semarang, Palembang, Makassar, Bekasi, Depok, dan Tangerang.

Mengutip dari WWF Indonesia, ketika kita membuang makanan ke dalam tempat sampah, maka sampah-sampah tersebut akan dibawa dan terkubur di tempat pembuangan sampah. Kemudian, ketika sampah tersebut berada paling bawah akan mengalami pembusukan sehingga terbentuk gas metana. Gas metana akan merusak lapisan ozon bumi karena gas metana termasuk gas rumah kaca yang dapat mengakibatkan perubahan iklim. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Bernt Johnke, pembakaran sampah juga dapat menghasilkan gas rumah kaca, seperti CO2, N2O, NOx, NH3, dan karbon organik. CO2 merupakan gas utama yang dihasilkan oleh pembakaran sampah dan dihasilkan cukup tinggi dibandingkan dengan emisi gas lainnya.

Mencari Alternatif Pengelolaan Sampah Indonesia

Ilustrasi Sampah Makanan
Ilustrasi Sampah Makanan. (Sumber: Jasmin Sessler/Unsplash)

Open dumping masih menjadi sistem yang paling banyak dipraktikkan di berbagai kota di Indonesia. Tak heran, sistem ini sangat mengganggu bagi lingkungan. Idealnya, Indonesia mengelola sampah dengan controlled landfill dan sanitary landfill (urug saniter). Controlled landfill merupakan sistem lanjutan dari open dumping, di mana sampah yang diratakan dan dipadatkan, kemudian ditutup dengan lapisan tanah setiap satu minggu.

Sementara itu, sanitary landfill adalah standar pembuangan sampah internasional. Dengan sanitary landfill, sampah dipadatkan dan diratakan, lalu ditutup dengan lapisan tanah setiap hari. Dikarenakan biaya operasional yang mahal, sistem ini masih jarang digunakan di TPA Indonesia.

Sistem pengelolaan sampah lain yang juga dipakai di Indonesia adalah insinerasi, menggunakan alat yang disebut insinerator. Insinerator digunakan untuk membakar limbah dalam bentuk padat dan dioperasikan dengan memanfaatkan teknologi pembakaran pada suhu tertentu. Teknologi ini merupakan salah satu alternatif untuk mengurangi timbunan limbah karena melibatkan pembakaran dengan suhu tinggi, dan energi panas yang dihasilkan bisa dimanfaatkan menjadi sumber listrik (waste to energy).

Selain itu, ahli kesehatan masyarakat juga mengingatkan bahasa insinerator bagi kesehatan dan lingkungan. Insinerator menghasilkan senyawa dioksin, senyawa paling beracun yang menyebabkan berbagai penyakit seperti kanker, penyakit reproduksi, hingga kerusakan imun. Selain dioksin, insinerator juga membuang merkuri dan partikel halus. Merkuri dapat berdampak buruk bagi saraf dan perkembangan otak anak, sementara partikel halus menyebabkan penurunan fungsi paru, kanker, serangan jantung, dan kematian dini. Terakhir, insinerator juga menghasilkan abu yang masuk dalam kategori limbah bahan berbahaya dan beracun (limbah B3), yang penangannya mahal karena sifatnya yang berbahaya.

Pengelolaan Sampah Berkelanjutan Indonesia Masih Bergantung Pada Individu

Ilustrasi Sampah Plastik. (Sumber: Magda Ehlers/Pexels)

Sistem pengelolaan sampah di Indonesia masih belum menerapkan pemilahan sampah secara masif. Ketika kamu sudah memilah sampahmu dari rumah, besar kemungkinan sampah tersebut akan dicampur lagi setelah diangkut. Ini mempersulit pengelolaan sampah yang berkelanjutan di Indonesia, serta mendorong laju emisi gas rumah kaca yang berkontribusi pada pemanasan global.

Generasi hijau, pengelolaan sampah berkelanjutan di Indonesia masih sangat bergantung pada penerapan konsumsi dan produksi berkelanjutan yang dilakukan oleh individu. Ketika sampah anorganik yang kita hasilkan masih sulit dikelola dan didaur ulang, ada baiknya kita menerapkan sistem pengurangan dan penggunaan kembali (reduce dan reuse). Sementara untuk sampah organik, seperti sisa makanan dan sampah daun, bisa dikelola dengan melakukan kompos dari rumah.

Ditulis oleh: Yohanna Christiani

Referensi

  1. Arie Herlambang, H. S. d. K. W., 2010. Produksi Gas Metana Dari Pengolahan Sampah. pp. 389 – 399.
  2. Johnke, B., n.d. Emissions from Waste Incineration. Good Practice Guidance and Uncertainty Management in National Greenhouse Gas Inventories, pp. 455-468.
  3. https://mdpi.com/2076-3298/8/8/73/pdf diperoleh pada tanggal 3 September 2021.
  4. https://mongabay.co.id/2019/02/22/open-dumping-sampah-harus-segera-ditinggalkan-bagaimana-langkahnya/ diperoleh pada tanggal 3 September 2021.
  5. https://mutuinstitute.com/post/apa-itu-alat-incinerator/ diperoleh pada tanggal 3 September 2021.
  6. https://theconversation.com/insinerator-sampah-akan-perparah-pencemaran-udara-jakarta-114017 diperoleh pada tanggal 3 September 2021.
  7. https://wwf.id/program/iklim-dan-energi diperoleh pada tanggal 3 September 2021.

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Berlangganan

* Diperlukan