ESG: Strategi Investasi Masa Depan Berkelanjutan

Foto 1. Ilustrasi ESG (Techno Business)
Foto 1. Ilustrasi ESG (Techno Business)

Krisis iklim yang kian memburuk memicu dunia untuk merubah sistem pembangunan yang semula tidak berpihak pada keberlanjutan masa depan bumi menuju sistem pembangunan yang berkelanjutan. Pemerintah Indonesia perlahan turut merubah arah pembangunan ke ranah berkelanjutan setelah Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa dengan Menteri Lingkungan dan Iklim Swedia Per Bolund dan Menteri Infrastruktur Swedia Thomas Eneroth menandatangani komitmen untuk mengembangkan konsep ekonomi biru di Indonesia. Konsep ini menjadi bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Indonesia (RPJPN) 2005-2025. Salah satu pembangunan yang digencarkan adalah sektor bisnis yang memenuhi standar ESG untuk investasi yang berkelanjutan.

Apa Itu ESG?

Foto 2. Poster ESG (Sustainability Academy)
Foto 2. Poster ESG (Sustainability Academy)

Untuk Mewujudkan pembangunan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan, sektor bisnis memiliki peran penting dalam menerapkan investasi hijau. Investasi hijau diterapkan dengan memenuhi standar Environmental, Social and Governance (ESG). ESG adalah standarisasi yang harus dipenuhi perusahaan untuk menerapkan praktik investasi hijau yang memperhatikan dampak lingkungan dan sosial dari aktivitas investasi dan operasional perusahaan.

 

Pertumbuhan investasi ESG di Indonesia juga cukup baik karena jumlah produknya bertambah pada tahun 2021 menjadi 15 produk. Ini jauh lebih baik daripada tahun 2016 yang hanya ada satu produk ESG. Pemerintahpun turut menerbitkan obligasi yang terstandarisasi ESG sebanyak 35,2 triliun rupiah untuk mendukung ekonomi berkelanjutan. 

Kenapa ESG Penting Diterapkan

Foto 3. Ilustrasi Tanaman Bertumbuh (West Papua Diary)
Foto 3. Ilustrasi Tanaman Bertumbuh (West Papua Diary)

Secara garis besar, ESG memberikan keuntungan dari aspek keberlanjutan lingkungan, kesejahteraan karyawan, dan investasi. Dari aspek lingkungan, perusahaan yang tersertifikasi ESG telah memiliki sistem operasional, rantai pasokan, dan investasi yang memerhatikan dampak terhadap lingkungan. Oleh karena itu mereka turut berkontribusi untuk melakukan pencegahan perubahan iklim, dan pengurangan emisi. 

 

Aspek yang juga mendukung tercapainya ESG adalah kesejahteraan karyawan. Perusahaan yang ingin memperoleh sertifikasi ini harus memastikan kesejahteraan dan perkembangan karyawannya. Oleh karena itu penting untuk memerhatikan hak karyawan, kebijakan kerja, dan fasilitas pengembangan kapasitas.

 

Selain kedua aspek tersebut, tentunya keuntungan investasi jadi target utama bagi perusahaan dan investor. Perusahaan yang telah tersertifikasi ESG dinilai punya stabilitas yang baik dalam menjalankan aktivitas bisnisnya. Ini terjadi karena upaya penanggulangan masalah lingkungan yang dilakukan adalah bagian dari mitigasi dampak perubahan iklim di masa depan yang berimbas pada bisnis dan investasi. Perusahaan yang tergolong ESG juga memiliki kredibilitas, akuntabilitas, dan inklusivitas yang terpercaya sehingga membuka peluang investasi yang lebih besar. 

Strategi Penerapan ESG

Foto 4. Poster Strategi ESG (Dorothy Neufeld / Visual Capitalist)
Foto 4. Poster Strategi ESG (Dorothy Neufeld / Visual Capitalist)

Untuk menerapkan ESG, perusahaan harus memastikan investasinya bertujuan untuk mengurangi serta memberi manfaat pada dampak lingkungan dan sosial. Tujuan itu direalisasikan dalam 7 strategi investasi ESG yaitu: 

 

  1.   1. Exclusionary: Seleksi bisnis yang berdampak negatif
  2.   2. Best in Class: Seleksi perusahaan ESG dengan berdasarkan rating
  3.   3. ESG Integration: Analisa dan penyesuaian aspek ESG
  4.   4. Sustainability Theme Investment: Investasi pada perusahaan yang membawa isu lingkungan tertentu
  5.   5. Green Bond: Investasi dalam bentuk utang pada proyek hijau
  6.   6. Impact Investment: Investasi yang menargetkan dampak positif secara rigid
  7.   7. Stewardship & Engagement: Pengawasan pengelolaan aspek lingkungan dan sosial antara investor dan perusahaan

 

Dari seluruh praktik tersebut, exclusionary dan ESG integration paling sering diterapkan oleh perusahaan dan investor. Exclusionary banyak digunakan untuk memastikan tujuan investasi tepat sasaran kepada industri yang benar-benar mendukung keberlanjutan lingkungan. Sedangkan ESG integration banyak digunakan karena memberikan keleluasaan kepada manajer investasi untuk melakukan analisis dan penyesuaian strategi investasi yang menguntungkan kedua belah pihak. 

Perusahaan Indonesia Yang Menerapkan ESG

Foto 5. Kantor Kalbe (Kalbe)
Foto 5. Kantor Kalbe (Kalbe)

Turut menerapkan standar ESG, beberapa perusahaan swasta dan pemerintah telah memperoleh index ESG yang baik dari MSCI pada laporan Indonesia ESG Leaders Index. MSCI adalah perusahaan keuangan asal Amerika yang juga bergerak di bidang layanan indeks ESG. Mereka meranking perusahaan yang terindeks ESG dengan strategi Best In Class. PT Bank Central Asia (Perbankan), PT Kalbe Farma (Kesehatan), PT Unilever Indonesia (Produk konsumen) adalah beberapa contoh perusahaan yang telah menerapkan standar ESG. 

 

Penerapan ESG yang memprioritaskan keberlanjutan lingkungan adalah strategi yang bisa diterapkan pelaku industri untuk berinvestasi pada masa depan bumi dan perusahaan. Ini adalah bagian dari penerapan ekonomi sirkular yang saat ini sedang ditumbuhkan di Indonesia.

 

Investasi untuk masa depan bumi tak hanya bisa dilakukan oleh pelaku industri. Kamu juga bisa terlibat untuk memastikan bumi tetap sehat di masa depan untuk kesejahteraan kamu dan seluruh umat manusia. Klik disini untuk lakukan perubahan!

Author :

Aviaska Wienda Saraswati

Aviaska Wienda Saraswati

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Berlangganan

* Diperlukan