Ibadah Tanpa Nyampah: Pandangan Agama Pada Prinsip Zero Waste

Foto 1. Muslimah Membawa Barang Belanjaan (RgStudio / istock)

Gaya hidup bebas sampah atau yang populer disebut zero waste ternyata sudah diajarkan dan dianjurkan untuk diterapkan dalam agama sejak dahulu kala. Pada dasarnya, setiap agama mengajarkan kita bagaimana berperilaku baik terhadap sesama dan bumi seisinya. Menerapkan gaya hidup zero waste juga merupakan kebaikan yang patut disebarkan pada seluruh umat. Lalu, seperti apa pandangan dari masing-masing agama di Indonesia ini melihat kebermanfaatan zero waste

Islam Dukung Gaya Hidup Zero Waste

Foto 2. Memetik Jeruk Di Kebun (Riaz / Sakata.id)

Saat ini, masyarakat Muslim Indonesia sedang merayakan Ramadan. Sayangnya, bulan Ramadan jadi momen peningkatan jumlah sampah yang kita hasilkan. Seperti yang telah dibahas pada artikel sebelumnya, sampah pada bulan ramadan meningkat sebesar 20%. Kebanyakan sampah yang dihasilkan adalah sampah sisa makanan dan plastik sekali pakai. Tentunya, ini sangat bertentangan dengan ajaran Islam.

 

Pandangan Islam tentang tata cara menerapkan zero waste dengan mengantisipasi sampah sisa makanan disampaikan dalam surat Al-An’am ayat 141 yang berbunyi, Dan Dialah yang menjadikan tanaman-tanaman yang merambat dan yang tidak merambat, pohon kurma, tanaman yang beraneka ragam rasanya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak serupa (rasanya). Makanlah buahnya apabila ia berbuah dan berikanlah haknya (zakatnya) pada waktu memetik hasilnya, tapi janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.”

 

Berdasarkan ayat tersebut, Allah melarang umatnya yang melakukan konsumsi secara berlebihan karena dapat menimbulkan sampah. Untuk itu, Alquran menganjurkan manusia untuk mengkonsumsi makanan sesuai dengan musimnya dan berbagi kepada mereka yang tidak mampu agar tidak ada bahan makanan tersisa yang berpotensi menimbulkan sampah. 

 

Mengkonsumsi makanan sesuai dengan musimnya memberikan banyak manfaat bagi lingkungan dan manusia. Makanan sesuai musimnya mengandung nutrisi yang lebih tinggi untuk kesehatan dan pertumbuhan. Makanan yang didapatkan juga lebih segar dan minim penggunaan pengawet dan pestisida. Petani lokal juga diuntungkan karena banyaknya pembelian dari masyarakat setempat. Untuk lingkungan, pola ini akan mengurangi pembukaan lahan pertanian besar-besaran yang dapat mengancam ekosistem sekitar. Transportasi bahan pangan yang dapat menghasilkan karbon juga berkurang karena pola konsumsi makanan lokal. 

Bagi Kristiani, Menghasilkan Sampah Akan Mengurangi Keimanan

Foto 3. Gereja Berbagi Makanan (Adhik Kurniawan / Solopos.com)

Ajaran Kristiani baik Katolik maupun Protestan mengajarkan umatnya untuk menjaga kelestarian lingkungan lewat surat Amsal 3:19-22 yang menyatakan “(19) Dengan hikmat Tuhan telah meletakkan dasar bumi, dengan pengertian ditetapkan-Nya langit, (20) dengan pengetahuan-Nya air samudera raya berpencaran dan awan menitikkan embun. (21) Hai anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu, peliharalah itu.”

 

Dari ayat tersebut dijelaskan bahwa Tuhan telah memberikan banyak kenikmatan kepada manusia lewat lingkungan yang telah diatur untuk mendukung kehidupan manusia. Oleh karena itu, manusia wajib mensyukuri seluruh nikmat yang diberikan dan rendah hati. Salah satu bentuk ungkapan syukur adalah dengan mengurangi jumlah sampah sisa makanan sebagai bentuk pelayanan yang bertanggung jawab secara rohani. Poin utama yang ingin diwujudkan selain keberlanjutan lingkungan adalah berbagi cinta kasih kepada mereka yang kekurangan makanan.

Zero Waste Dengan Membiasakan Mindful Consumption Ala Buddha

Foto 4. Ilustrasi Mindful Consumption (balance.media)

Ajaran agama Buddha juga mengajarkan gaya hidup minim sampah dengan penerapan mindful consumption. Mindful consumption adalah wujud penerapan salah satu poin Jalan Arya Berunsur Delapan yang merupakan cara yang diterapkan untuk menghilangkan penderitaan atau keluh kesah dalam hidup dan mencapai pencerahan. Poin tersebut adalah perhatian atau kesadaran benar. Poin ini mengajarkan umatnya untuk tidak serakah dan cemas terhadap urusan duniawi. Di sini, umat diajarkan untuk fokus memperhatikan dan menyadari tubuh, pikiran, perasaan, dan mental diri. 

 

Mindful consumption adalah perilaku konsumsi di mana kita benar-benar menyadari kebutuhan kita akan konsumsi suatu barang serta tetap memikirkan aspek keberlanjutan lingkungan dari aktivitas konsumsi yang kita lakukan. Dengan menerapkan kebiasaan ini kita akan berlatih untuk mempertimbangkan secara matang barang yang akan kita konsumsi mulai dari proses produksi, manfaat, hingga dampak yang ditimbulkan. Kebiasaan ini sangat baik diterapkan untuk benar-benar mengurangi sampah yang kita hasilkan.

Tri Hita Karana, Pandangan Umat Hindu Untuk Kelestarian

Foto 5. Upacara Adat Bali (disbud.bulelengkab.go.id)

Umat Hindu sangat mengagungkan falsafah hidup Tri Hita Karana dalam kehidupan sehari-hari. Nilai ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan dan harmoni hubungan antar manusia, manusia dan alam, serta manusia dengan tuhannya. Seperti ajaran agama lainnya, ajaran hindu juga sangat menjunjung tinggi kelestarian lingkungan. Dalam kitab, Hyang Widhi (Tuhan) menjelaskan, ”Manusia jangan dan hentikan mencemari atmosfer, tumbuh-tumbuhan, sungai, sumber-sumber air, dan hutan belantara, karena kesemuaannya ini adalah pelindung kekayaan alam yang tak terkira banyaknya” (Rgweda, III.51.5). 

 

Bagi umat Hindu, mereka diperintahkan untuk menggunakan seluruh daya dukung alam yang diberikan hanya sebatas memenuhi kebutuhan bukan keinginan. Ini dilakukan agar manusia bisa menjaga keseimbangan alam agar tetap bahagia hidup di bumi dan bisa mencapai surga. Prinsip ini juga menjadi landasan untuk menerapkan gaya hidup zero waste. Menjaga pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan menuntut kita untuk dapat memetakan kebutuhan konsumsi dan produksi kita sesuai kebutuhan agar tidak menimbulkan sampah.

 

Ajaran-ajaran baik yang dibawa oleh masing-masing agama tentunya harus diimplementasikan dengan baik bagi seluruh umatnya. Menjaga alam dengan menerapkan gaya hidup minim sampah menjadi bagian dari #IbadahTanpaNyampah sebagai wujud kesetiaan dan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa.

Author :

Aviaska Wienda Saraswati

Aviaska Wienda Saraswati

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Berlangganan

* Diperlukan