Mengontrol Laju Pertumbuhan Penduduk Dapat Dilakukan Bersamaan dengan Peningkatan Kualitas Hidup

Di tahun kedua pandemi Covid-19, Indonesia menyaksikan tingkat kematian yang cukup tinggi dibanding tahun 2020. Meski angkanya lebih tinggi, persentasenya menurun. Namun kita masih belum melihat berita baik mengenai hal ini. Jika angka kasus positif dan angka kematian menurun bersamaan, baru kita bisa bernafas lega, karena artinya pandemi sudah terkendali.

Bagaimana maksudnya persentase menurun? Misalnya, dari kasus positif 1000 orang, terdapat 10 kematian, artinya persentase kematian mencapai 1%. Jika kasus positif 400.000 orang dan terdapat 1000 kematian, persentasenya hanya 0,25%. Persentasenya turun, namun lebih banyak lagi orang yang meninggal dan terjangkit Covid-19.

Tanggal 11 Juli, PBB menetapkan Hari Populasi Sedunia untuk mengangkat pentingnya isu populasi masyarakat dunia. Kita telah menyaksikan beberapa teman, atau bahkan kita sendiri, kehilangan orang terdekat sejak pandemi melanda. Hari Populasi Sedunia dapat menjadi momen yang tepat untuk berefleksi kembali tentang bagaimana kita bisa menjaga bumi, agar kita dapat mewariskan bumi yang lestari dan bebas pandemi pada anak cucu kita kelak.

(Sumber: Gabriella Clare Marino/Unsplash)

SDGs dan hubungannya dengan populasi dunia

Isu populasi masyarakat berhubungan erat dengan tiap poin SDGs -Sustainable Development Goals atau 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang diinisiasi PBB. Seluruh poin SDGs bertujuan untuk membangun masa depan yang harmonis dan berkelanjutan bagi tiap warga dunia, yang mana artinya manusia perlu membangun hubungan yang selaras dengan alam dan manusia lainnya.

Di SDGs pertama, PBB menyasar tujuan untuk menghapus kemiskinan. Bank Dunia memperkirakan bahwa warga yang hidup di bawah garis kemiskinan kemungkinan tidak akan menurun di tahun 2021 karena pertumbuhan populasi masih melebihi pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang. Warga yang tinggal di pemukiman kumuh umumnya tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk menentukan hubungan pengeluaran bulanan dan jumlah anak. Memastikan tiap warga dunia teredukasi untuk menyesuaikan jumlah anak dan pengeluaran bulanan mereka ialah salah satu kunci untuk menghapus kemiskinan.

SDGs kedua menyasar pada penghapusan angka kelaparan. Memastikan tiap warga dunia tidur dengan perut kenyang dan di saat yang sama tidak memberikan dampak negatif pada lingkungan, akan makin sulit di tahun-tahun selanjutnya ketika pertumbuhan populasi terus naik. Kemungkinan besar, nantinya manusia akan berebut lahan dengan pertanian untuk memenuhi persediaan makanan.

Seluruh isu kesehatan dalam SDGs diintegrasikan dalam satu tujuan yakni di tujuan nomor tiga, yaitu menjamin kehidupan sehat dan sejahtera. Kesulitan akses kesehatan reproduksi, termasuk pada kontrasepsi modern dan aborsi sehat kerap mengarah pada tingginya tingkat kehamilan tak direncanakan (KTD) dan kematian ibu. Negara dapat mendukung SDGs ini dengan menyediakan akses kesehatan yang inklusif bagi tiap orang, dengan begitu akan meningkatkan kualitas hidup penduduknya.

Menjamin kualitas pendidikan yang inklusif dan merata ialah kunci untuk pengentasan kemiskinan dan meminimalisasi ledakan penduduk. Hal ini juga dibahas dalam SDGs keempat, yaitu pendidikan berkualitas. Secara umum, kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi berdampak langsung pada pilihan untuk memiliki keturunan.

Memberdayakan perempuan dan anak untuk berdaulat dengan hidupnya sendiri menjadi hal krusial untuk menyelesaikan krisis iklim dan sosial yang kita hadapi sekarang. Dalam SDGs nomor lima: kesetaraan gender, kita juga dapat mengangkat isu pernikahan anak untuk memperlambat peningkatan jumlah penduduk.

Kombinasi buruk dari pertumbuhan populasi dan perubahan iklim ialah minimnya akses pada air bersih dan sanitasi, seperti yang diangkat di SDGs nomor enam. Jumlah manusia bertambah, namun air bersih semakin berkurang. Para ahli memperkirakan di tahun 2050, sekitar 5 miliar orang -hampir setengah penduduk dunia- akan tinggal di daerah krisis air bersih.

Lambatnya perkembangan energi bersih masih membuat kita bergantung pada energi fosil. Negara maju dapat membantu negara berpendapatan rendah untuk memimpin transisi energi bersih ini, seperti yang diproyeksikan PBB melalui SDGs nomor tujuh: energi bersih dan terjangkau.

SDGs nomor delapan menyorot pada pekerjaan layak dan perkembangan ekonomi. Tiap masyarakat dunia dapat berkontribusi untuk menciptakan lapangan pekerjaan layak dan perkembangan ekonomi, bukan hanya memikirkan pertumbuhan ekonominya saja.

Industri, inovasi, dan infrastruktur di poin sembilan agaknya akan sedikit bertabrakan dengan poin SDGs yang lain ketika negara punya banyak kepala yang butuh tempat tinggal. Makin besar populasinya, makin sulit untuk memberi akses ke infrastruktur modern bagi semua orang, dan dalam prosesnya kemungkinan akan makin luas lingkungan yang dikorbankan.

Kesenjangan ekonomi terbentang luas antara si kaya dan si miskin, dan pandemi menjadikannya lebih terlihat jelas. Di poin SDGs nomor 10 tentang berkurangnya kesenjangan, populasi dunia yang terkendali berarti akses dan distribusi pada kebutuhan dasar masyarakat akan lebih mudah.

Warga Jakarta menyeberang jalan lengkap dengan maskernya. (Sumber: Edna Tarigan/AP)

Saat ini, hampir setengah populasi dunia tinggal di area urban. Diperkirakan di tahun 2050, angka ini akan bertambah hingga 68%. Di SDGs nomor 11 kota dan komunitas berkelanjutan berhubungan dengan akses warga ke infrastruktur layak. Laju pertumbuhan penduduk yang terkendali berarti negara juga dapat memastikan tiap warganya memiliki akses yang sama ke infrastruktur seperti air bersih, sanitasi, fasilitas kesehatan, pekerjaan layak dan pendidikan berkualitas.

Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab mengenai makanan dan barang harus berkorelasi dengan usaha mengendalikan laju pertumbuhan penduduk. Di SDGs nomor 12, PBB mengajak kita untuk menggunakan sumber daya dengan sadar demi memenuhi kebutuhan tiap manusia di dunia.

Pola konsumsi yang tidak berkelanjutan di negara dengan pendapatan tinggi menjadi alasan utama krisis iklim. SDGs ke-13 mengajak tiap warga dunia untuk mengambil aksi segera untuk memerangi perubahan iklim dan dampaknya.

Polusi bawah air dari plastik maupun emisi karbon, overfishing, coral bleaching dan hancurnya ekosistem pesisir kebanyakan didukung oleh meningkatnya populasi. SDGs nomor 14 tentang kehidupan bawah air mengajak kita untuk mengatasi kehilangan jumlah hewan laut dengan cara berkomitmen mengurangi perkembangan populasi manusia.

Meningkatnya populasi manusia menjadi sebab utama hilangnya keanekaragaman hayati. Menurut WWF, kita telah kehilangan 60% dari populasi alam liar sejak tahun 1970. Sejak saat itu, populasi manusia justru meningkat pesat. Untuk mewujudkan SDGs nomor 15 tentang menjaga ekosistem darat secara efektif dalam jangka panjang, usaha konservasi harus menggabungkan solusi untuk populasi manusia pula.

Ilustrasi populasi negara di dunia. (Sumber: Anil Yanik)

Pertumbuhan populasi kerap berkontribusi pada konflik yang berhubungan dengan kesulitan mendapatkan sumber daya dan bahan pangan. Hal ini juga berhubungan karena absennya institusi publik yang kuat. SDGs nomor 16 tentang kedamaian, keadilan dan kelembagaan yang kuat, kita dapat mewujudkan fondasi masyarakat yang stabil. Dengan demikian, kedamaian di ekosistem masyarakat kita dapat lebih mudah dicapai.

Dari seluruh poin SDGs, tujuan ini akan lebih mudah diraih jika tiap institusi dan negara memiliki kemitraan yang kuat untuk mewujudkan bumi yang lebih baik. Semuanya dirangkum dalam SDGs nomor 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan.

Tiap poin SDGs ini perlu dilakukan bersama untuk memastikannya tercapai. Namun untuk saat ini karena kita masih di masa pandemi, jika masih sulit untuk memanifestasikan tiap poin dalam langkah-langkah individu kecil, Generasi Hijau dapat terus mendukung penurunan angka positif Covid-19 dengan tetap berada di rumah. Kita bisa turut menjaga diri sendiri dan orang lain. Selain itu, jangan lupa untuk terus perhatikan kondisi psikismu. Yuk, ajak juga orang sekitar untuk vaksinasi!

Ditulis oleh: Melisa Qonita Ramadhiani

Referensi

United Nations. (n.d.). Population and the Sustainable Development Goals. Retrieved from Population Matters: https://populationmatters.org/sdgs United Nations. (n.d.). World Population Day Background. Retrieved from United Nations: https://www.un.org/en/observances/world-population-day/background

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Support Organization

Support Specific Program

Berlangganan

* Diperlukan