Menuju Forum Ekonomi Sirkular Indonesia ke-4: Langkah ke Arah Kota Cerdas & Berkelanjutan Melalui Penerapan Ekonomi Sirkular

Ketika bicara krisis iklim, jarang sekali kita menyentuh ranah di mana perempuan menghadapi krisis iklim dengan level kesulitan yang berbeda dibanding lelaki. Nyatanya, efek domino dari ketidaksetaraan gender menempatkan perempuan di tempat yang lebih rentan terkait dampak buruk krisis iklim.

Perubahan iklim meningkatkan ketidaksetaraan gender, menurunkan kemampuan perempuan untuk jadi independen secara finansial, dan secara umum berdampak buruk bagi hak sosial dan politik perempuan. Peran gender di tatanan sosial negara berkembang sering menempatkan perempuan sebagai yang dinafkahi. Hal ini memperparah beban perempuan yang keluarganya bergantung pada pertanian dan kerja buruh.

Sulitnya jadi perempuan di masyarakat patriarkal

Di beberapa daerah utamanya di belahan bumi selatan, masih banyak negara berkembang yang mengandalkan perempuan untuk melakukan pekerjaan domestik, seperti memasak, mengambil air, atau bercocok tanam. Adanya krisis iklim menggandakan kesulitan tugas-tugas ini. Cuaca ekstrem seperti kekeringan dan banjir meningkatkan risiko perempuan menjadi korban kekerasan ketika mereka tidak mampu menyajikan makanan di atas meja.

Dengan meningkatnya frekuensi kekeringan dan meluasnya permukaan gurun di belahan bumi selatan, berarti semakin banyak pula sumber air dan sumur yang mengering. Riset menunjukkan, kekeringan ekstrem menyebabkan meningkatnya KDRT di Uganda. Penelitian di topik yang sama menunjukkan bahwa kesulitan finansial yang disebabkan kekeringan ini berefek pada peningkatan konsumsi pria terhadap alkohol dan obat-obatan sebagai coping mechanism. Kecanduan alkohol ini menjadikan perempuan sebagai korban KDRT.

Anak perempuan Nigeria, Afrika Barat, pulang setelah bekerja di ladang. (Sumber: Mike Goldwater/Alamy Stock Photo)

Mengumpulkan air acap kali jadi pekerjaan perempuan. Kekeringan ini menyebabkan mereka terpaksa berjalan lebih jauh untuk mendapatkan air. Otomatis risiko serangan seksual juga meningkat, terutama di daerah-daerah yang rawan kejahatan geng bersenjata.

Kekeringan di Afrika berbanding terbalik dengan kelebihan air di Indonesia. Setiap musim hujan, kita pasti kebagian banjir besar di daerah Jabodetabek. Pada masa krisis, perempuan punya insting lebih kuat untuk menyelamatkan anak, sehingga memprioritaskan keselamatan anak lebih dulu dibanding dirinya. Hal ini sebaliknya, tidak begitu umum ditemui di laki-laki.

Kekeringan di Afrika berbanding terbalik dengan kelebihan air di Indonesia. Setiap musim hujan, kita pasti kebagian banjir besar di daerah Jabodetabek. Pada masa krisis, perempuan punya insting lebih kuat untuk menyelamatkan anak, sehingga memprioritaskan keselamatan anak lebih dulu dibanding dirinya. Hal ini sebaliknya, tidak begitu umum ditemui di laki-laki.

Seorang wanita dan anaknya berjalan menyusuri banjir Jakarta, 25 Februari 2020. (Sumber: Bay Ismoyo/AFP via Getty Images)

Laki-laki dapat pindah dari daerah terdampak krisis iklim untuk mencari penghidupan yang lebih laik. Namun perempuan memiliki banyak pertimbangan untuk pindah; komitmen mengurus anak, kesejahteraan anak, atau masa depan anak di tempat baru. Karena itu pula, perempuan punya kewajiban untuk bekerja, meski diupah rendah karena tanggung jawabnya membesarkan anak. Hal ini kemudian jadi topik lain: kesetaraan gender di ranah pekerjaan.

Mitigasi krisis iklim di tangan perempuan

Perempuan mengemban beban berat ekspektasi masyarakat di bahunya. Meski terdampak krisis iklim lebih besar dibanding laki-laki, perempuan punya peran krusial dalam adaptasi krisis iklim dan mitigasi. Perempuan lebih paham tentang solusi praktis dan apa yang diperlukan untuk adaptasi di kondisi lingkungan yang berbeda, namun kebanyakan potensi mereka belum dimanfaatkan.

8 Maret lalu, perempuan seluruh dunia merayakan Hari Perempuan Internasional sebagai pencapaian sosial, ekonomi, budaya dan politik bagi perempuan. Hari ini juga menandakan panggilan aksi untuk meningkatkan kesetaraan gender. Kita berkesempatan untuk berefleksi bagaimana perempuan di seluruh dunia terdampak krisis iklim dan bernasib sama.

Petani wanita menanam padi selagi ditunggu petani lelaki di Desa Sekejati, Bandung. (Sumber: dok. pribadi Melisa Qonita Ramadhiani)

Bukan hanya sebagai inisiator gerakan peduli lingkungan, sudah sepatutnya gerakan ini dipimpin perempuan. Advokasi dan penyelesaian masalah yang diinisiasi perempuan lebih sarat empati dan inklusivitas. Baik perempuan adat yang menolak pembukaan lahan tambang, perempuan inisiator kebun urban, perempuan yang menggerakkan dana untuk sanitasi dan air bersih, atau perempuan peneliti energi terbarukan, banyak contoh perempuan memimpin gerakan yang mendukung konsumsi dan produksi yang berkelanjutan.

Mengatasi krisis iklim perlu pendekatan yang ramah gender. Hal ini berarti bergerak lebih jauh dari sekadar memastikan perempuan dan laki-laki terepresentasikan dengan baik di panel diskusi. Kita harus memperluas paham bahwa relasi kuasa struktural dan marjinalisasi ekonomi sosial menyebabkan perempuan lebih terdampak pada krisis iklim.

Wanita Aceh membawa kayu bakar dari hutan untuk memasak. (Sumber: Boy Haqi/CIFOR)

Seperti diuraikan dalam kertas kerja UN Women tahun 2015, “pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender punya efek katalis pada pencapaian pengembangan SDM, good governance, konsumsi dan produksi berkelanjutan, kedamaian, dan dinamika lingkungan dan populasi manusia yang harmonis”.

Selamat Hari Perempuan Internasional untuk semua perempuan hebat di dunia!

Referensi

Cwink, J. (2020, February 22). Perubahan Iklim Lebih Berbahaya Bagi Perempuan dan Anak. Retrieved from Deutsche Welle: https://www.dw.com/id/dampak-perubahan-iklim-terhadap-perempuan/a-52466076

IUCN. (2021). Issues Brief: Gender and Climate Change. Retrieved from IUCN : https://www.iucn.org/resources/issues-briefs/gender-and-climate-change

Megumi,S. R. (2017, September 25). Perubahan Iklim Berimbas pada Kesehatan Perempuan. Retrieved from Greeners.co: https://www.greeners.co/berita/perubahan-iklim-berimbas-kesehatan-perempuan/

Park, A. (2019, November 26). How Climate Change Exacerbates Gender Inequality Across the Globe. Retrieved from TIME.com: https://time.com/5738322/climate-change-gender-inequality/

Sinha, V. (2019, September 16). We can solve climate change – if we involve women. Retrieved from World Economic Forum: https://www.weforum.org/agenda/2019/09/why-women-cannot-be-spectators-in-the-climate-change-battle/

Thomas, A. (2020, March 8). Power structures over gender make women more vulnerable to climate change. Retrieved from Climate Change News: https://www.climatechangenews.com/2020/03/08/power-structures-gender-make-women-vulnerable-climate-change/

UN WomenWatch. (2009). Fact Sheet: Women, Gender Equality and Climate Change. Retrieved from UN WomenWatch: https://www.un.org/womenwatch/feature/climate_change/downloads/Women_and_Climate_Change_Factsheet.pdf

Wang, N. (2020, June 10). How Women Can Lead The Resistance Against Climate Change. Retrieved from Forbes.com: https://www.forbes.com/sites/nancywang/2020/06/10/how-women-can-lead-the-resistance-against-climate-change/?sh=5b0ac8651445

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Berlangganan

* Diperlukan