Degradasi Tanah, Bahaya yang mengintai dari Industri Tambang

Atas nama pembangunan, manusia telah mengeksploitasi sumber daya bumi untuk membangun infrastruktur dan mengekspansi industri selama beberapa abad terakhir. Bukan tujuan yang salah, namun seringkali eksekusinya tidak dibarengi dengan kearifan lingkungan. Kearifan lingkungan bukan berarti manusia dilarang memanfaatkan sumber daya yang ada, melainkan kita menganggap lingkungan sebagai salah satu bagian dari kehidupan manusia, sehingga pengelolaan sumber daya merupakan suatu siklus timbal balik bagi manusia dan alam. Dengan begitu, manusia tidak egois dan menerapkan pola konsumsi dan produksi berkelanjutan.

Sementara selama beberapa tahun terakhir, manusia telah merasakan dampak negatifnya dari pertambangan. Tentu saja, warga kecil di sekitar galian tambang yang paling merasakan dampaknya. Lantas, bagaimana industri pertambangan mempengaruhi tanah dan manusia? Masalah polusi air dan tanah, erosi, perubahan muka bentuk bumi, hingga bekas galian tambang yang kerap memakan korban.

Meninggalkan lubang besar

Galian tambang yang sudah tidak produktif akan meninggalkan lubang menganga sedalam 30-40 meter. Di banyak bekas lokasi tambang, lubang ini dibiarkan begitu saja. Lama kelamaan, lubang ini akan menampung air dan seringkali dijadikan objek wisata oleh warga sekitar. Warna airnya yang hijau dan kebiru-biruan indah dipandang mata. Padahal, warna tersebut tidak alami. Ia berwarna terang karena mengandung banyak logam berbahaya bagi manusia.

Warga sekitar yang mengelilingi danau bekas galian tambang setelah ada kabar korban tenggelam. (Sumber: dokumen Jatam Kaltim)

Menurut hasil uji dari Jatam (Jaringan Advokasi Tambang) di bekas lubang tambang di Jambi, sampel air yang diambil mengandung pH 3,4. Sementara, standar pH air laik dikonsumsi adalah 6.5 – 8,5. Angka pH yang rendah dapat dikatakan bahwa tingkat keasaman air tinggi yang mengindikasikan tingginya logam berat yang terlarut di dalamnya. Secara kasat mata airnya terlihat jernih, namun tidak terdapat mikroorganisme maupun ikan yang dapat hidup di sana. Ironisnya, dengan kondisi air yang jernih tersebut, banyak masyarakat yang memanfaatkan air dalam bekas galian tambang tersebut untuk konsumsi dan kebutuhan sehari-hari lainnya.

Selain isu air yang tidak laik, lubang bekas galian tambang ini juga kerap memakan korban. Di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, lubang bekas tambang telah memakan korban hingga 33 jiwa. Kebanyakan masih berusia belia, usia 10-14 tahun.

Seperti dilansir dari Tirto.id, sejak Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengeluarkan Peraturan Menteri (Permen) ESDM No.7/2014 tentang Pelaksanaan Reklamasi dan Pascatambang Pada Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara, menjadikan lubang bekas tambang sebagai tempat wisata adalah perbuatan legal. Padahal, reklamasi seharusnya adalah upaya yang dilakukan untuk mengembalikan lahan bekas tambang mendekati kondisi awal. Bila sebelumnya kawasan tambang itu adalah hutan, maka harus dikembalikan seperti hutan.

Mengubah Permukaan Tanah

Manusia modern bergantung pada mineral dan logam. Sebagian besar elemen ini jarang ditemukan di permukaan Bumi, sehingga membutuhkan upaya memindahkan tanah dan batu dalam skala besar untuk menambangnya. Karena itu juga, jadilah lubang galian tambang.

Menurut Matthew Ross pada artikelnya di The Conversation, untuk mencapai cadangan bawah tanah tersebut, para penambang akan menggali terowongan, lubang terbuka atau mengikis permukaan Bumi. Pemilihan teknik tergantung pada bermacam faktor, termasuk cara menggabungkan bijih hingga mengatur geologis dan kedalaman bijih tersebut di bawah tanah.

Selama ribuan tahun permukaan planet Bumi terbentuk oleh proses geologis angin dan hujan yang lambat. Sebaliknya, penambangan mengubah struktur geologi, topografi, hidrologi, dan ekologi situs hanya dalam beberapa tahun atau dekade. Evolusi bentang alam bergerak dalam siklus yang sangat lambat, sehingga dampak topografi dan geologis ini dapat bertahan jauh lebih lama daripada efek penambangan terhadap kualitas air. Untuk menunggu mineral tambang tersebut dapat diekstraksi kembali, butuh waktu proses geologis hingga ratusan tahun. Sementara kewajiban ekonomi membuat perusahaan terus mendorong untuk menggali tambang baru dengan pengawasan lingkungan yang lebih lemah. Proyek-proyek baru tersebut akan memindahkan lebih banyak batu, mengkonsumsi lebih banyak energi dan memiliki dampak yang lebih lama daripada yang sebelumnya. Manusia tidak memberi waktu bagi alam untuk memulihkan diri dan mereproduksi. Karena proses geologis yang lambat, para ilmuwan sulit memprediksi pergerakan bentang alam ini dalam evolusi masa depan mereka. Benua kuno di dunia dapat dilihat pergerakannya di tiap zaman geologis, namun manusia memiliki dampak yang lebih besar bagi Bumi daripada proses murni alami.

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Support Organization

Support Specific Program

Berlangganan

* Diperlukan