ID
|
4 Masalah Lingkungan Dari Jaman Kolonial

4 Masalah Lingkungan Dari Jaman Kolonial

Foto 1. Batavia Digenangi Banjir (Tropenmuseum)
Foto 1. Batavia Digenangi Banjir (Tropenmuseum)

Daftar Isi

Generasi Hijau, Dirgahayu RI Ke-77 seharusnya jadi momen refleksi kita semua. Mengingat perjalanan panjang era penjajahan hingga kemerdekaan saat ini. Kamu mungkin sempat berpikir, jaman dahulu ada masalah lingkungan tidak ya? Maaf kalau kamu harus kecewa, masalah lingkungan sudah ada sejak era kolonial Belanda. Sayangnya, hingga sekarang terus berlanjut dan belum tertangani dengan baik. Ini dia 4 masalah lingkungan yang sudah ada sejak era kolonial.

Pembabatan Hutan

Foto 2. Masalah Lingkungan Pembabatan Hutan Untuk Lahan Perkebunan (National Gallery of Australia)
Foto 2. Masalah Lingkungan Pembabatan Hutan Untuk Lahan Perkebunan (National Gallery of Australia)

Pembabatan hutan atau deforestasi pada era kolonial telah membabat banyak hutan asli di Pulau Jawa. Deforestasi dilakukan untuk memanfaatkan kayu sebagai bahan bangunan, bahan bakar, dan pembuatan transportasi. Pada masa penjajahan VOC, kebutuhan kayu meningkat pesat karena pembangunan dan pertumbuhan penduduk Batavia. Alhasil, hutan di luar benteng kota yang semula lebat dibabat habis.

Selain itu, pembabatan hutan terjadi karena lahirnya sistem tanam paksa (Cultuurstelsel). Sistem ini mengharuskan penduduk menanam tanaman komoditi ekspor sebanyak 20% dari lahan yang dimiliki. Sistem ini mengakibatkan kerusakan parah hutan Indonesia. Masalah ini diatasi dengan mengaktifkan lagi lembaga Jawatan Kehutanan. Setelah itu, lembaga ini membuat UU tahun 1874. 

Banjir

 Foto 3. Anak-anak Bermain di Banjir. Masalah Lingkungan Era Kolonial (Tribun Batam)
Foto 3. Anak-anak Bermain di Banjir. Masalah Lingkungan Era Kolonial (Tribun Batam)

Masalah banjir pada masa penjajahan di Belanda tak hanya menyerang kota besar seperti Batavia. Banyuwangi pernah mengalami banjir bandang yang terjadi pada tahun 1939. Banjir disebabkan karena alih fungsi lahan besar-besaran. Banyuwangi yang kaya akan potensi hutan asli jadi sasaran kompeni Belanda. Banyak alas atau hutan ditebangi dan dijadikan lahan perkebunan serta pertanian. Ini menyebabkan berkurangnya daerah resapan air untuk mencegah banjir. Akibatnya, banjir merusak jalan, jembatan, perkebunan dan pertanian. Kejadian ini menyebabkan kerugian materiil dan ekologis.

Polusi 

 Foto 4. Pencemaran Udara Akibat Gas Buang Pabrik Gula (belovedhometown.wordpress.com)

Foto 4. Pencemaran Udara Akibat Gas Buang Pabrik Gula (belovedhometown.wordpress.com)

Masalah polusi menyerang kota-kota besar di Indonesia pada era penjajahan. Kota yang ternyata sudah langganan polusi sejak dulu adalah DKI Jakarta. Polusi udara dan air melanda wilayah ini karena maraknya pertumbuhan sektor industri. Contoh beberapa pabrik yang menghasilkan gas buang dan limbah polutan adalah pabrik gula, mesiu, kapur, batu bata, dan lainnya. Polusi ini tak lepas dari tanggung jawab VOC yang rakus mengeksploitasi sumber daya alam tanpa memperhatikan aspek ekologis. Selain itu, gaya hidup masyarakat yang tidak bersih juga memperburuk polusi.

Akibat polusi yang tak terkendali, penduduk sempat meninggalkan wilayah yang ditinggali. Polusi juga sempat menyebabkan endemik kolera dan malaria. Kota Batavia awalnya digunakan sebagai ratu dari timur oleh bangsa eropa. Namun, kini kondisinya nestapa. 

Pengelolaan Sampah 

 Foto 5. Petugas Pengangkut Sampah Era Kolonial (beritabanjarmasin.com)

Foto 5. Petugas Pengangkut Sampah Era Kolonial (beritabanjarmasin.com)

Masalah lingkungan yang satu ini ternyata juga dirasakan leluhur-leluhur kita. Pada masa kolonial, keterbatasan pengetahuan pengelolaan sampah jadi hal yang polemik. Ini menyebabkan masalah sudah timbul dari skala rumah tangga. Dampaknya pasti merembet ke skala kota hingga negara.

Masyarakat yang tinggal di wilayah perkotaan diuntungkan dengan adanya layanan angkutan sampah. Contohnya saja layanan pengangkutan sampah di Surabaya pada tahun 1924. Layanan ini disebut Vuilnisverordening. Sementara itu, masyarakat perkampungan terpaksa membakar, menimbun, dan membuang sampah ke sungai. Jadi, pada dasarnya konsep pengelolaan sampah jaman dahulu hanya “dibuang”. Saat itu belum muncul solusi untuk daur ulang sampah. Hal baiknya, masyarakat jaman penjajahan terbiasa menggunakan wadah guna ulang yang membantu mengurangi sampah.

Meskipun Indonesia telah merdeka dan zaman semakin modern, nyatanya masalah tak kunjung selesai. Bisa dibilang, masalah lingkungan saat ini makin parah. Ini menunjukkan perubahan zaman tak menjamin masalah lingkungan di era kolonial akan selesai. Saat ini, kita tak punya pilihan lain selain berupaya memulihkan lingkungan. Tentunya memperbaiki pola konsumsi dan produksi jadi berkelanjutan adalah solusi dasar. Solusi tersebut membuka berbagai langkah kecil dan besar penyelamatan lingkungan.

Referensi

Batavia Kota Polusi. (2019, July 21). Historia. Retrieved August 6, 2022.

Deforestasi Hutan Indonesia. (n.d.). HistoriA. Retrieved August 6, 2022. 

Vuilnisverordening: Penanggulangan Sampah di Surabaya Tahun 1920-an. (2021, April 19). Research gate. Retrieved August 6, 2022.

Ingin Terus Mendapatkan Informasi Terbaru Kami? Berlangganan Sekarang

Dengan berlangganan kamu telah menyetujui Kebijakan Privasi yang berlaku.

img 9429 cleanup

Mau up-date tentang kondisi lingkungan terkini?
Berlangganan sekarang!

Masukkan e-mailmu dan kami akan kirimkan berbagai informasi lingkungan menarik dan berbobot hanya untuk kamu, Generasi Hijau!

Dengan berlangganan kamu telah menyetujui Kebijakan Privasi yang berlaku.