ID
|
Perubahan Iklim di Depan Mata: 2021 Jadi Tahun Terpanas Kelima dalam Sejarah

Perubahan Iklim di Depan Mata: 2021 Jadi Tahun Terpanas Kelima dalam Sejarah

Foto permukaan tanah tandus di siang arah (sumber: Pixabay)
Foto permukaan tanah tandus di siang arah (sumber: Pixabay)

Daftar Isi

Saat ini, para pemangku kepentingan di dunia sedang sibuk menangani dampak dari pandemi yang terjadi sejak 2020. Namun, di sisi lain, kita juga harus bersiap untuk menghadapi perubahan iklim yang memiliki dampak yang tak kalah mengerikan dari pandemi. Baru-baru ini, sebuah badan layanan informasi iklim Uni Eropa, Copernicus Climate Change Service (C3S), mengungkapkan bahwa 2021 tercatat sebagai tahun terpanas kelima dalam sejarah. Para ilmuwan juga menyatakan bahwa 7 tahun terakhir merupakan tahun-tahun terpanas dalam sejarah. Rekor ini menjadi pengingat bagi umat manusia untuk segera bertindak mengatasi krisis iklim.

Rata-rata kenaikan suhu bumi pada 2021 mencapai 1.1°-1.2° Celcius. Sebelumnya, melalui Perjanjian Paris, negara-negara di dunia telah sepakat untuk membatasi rata-rata kenaikan suhu bumi hingga 2° C. Semua berusaha menekan kenaikan suhu bumi hingga 1.5° C untuk mengurangi dampak kerusakan yang terjadi akibat perubahan iklim. Namun, kenaikan suhu bumi sebesar 1.1°-1.2° Celcius yang terjadi pada 2021 saja sudah menunjukan dampak dan ancaman perubahan iklim yang serius. Hal ini terbukti dari maraknya berbagai peristiwa bencana alam yang terjadi selama 2021. Banjir mematikan yang menewaskan lebih dari 200 orang di Eropa Barat. Gelombang panas yang memicu kebakaran hutan di kawasan Mediterania seperti Turki dan Yunani. Sementera di Indonesia, BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) mencatat terdapat 3.078 bencana yang sebagian besar berkaitan dengan perubahan iklim. Salah satu bencana di Indonesia yang menjadi perhatian pada 2021 adalah banjir berkepanjangan. Banjir merendam ribuan rumah di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.

Emisi Karbon Dioksida dan Metana Semakin Meningkat

Meskipun 2021 tidak lebih panas dari tahun 2020 yang dicatat sebagai tahun terpanas dalam sejarah, ilmuwan C3S memperingatkan bahwa kita harus fokus melihat gambaran yang lebih besar. Fokus pada rata-rata kenaikan suhu bumi yang terus meningkat setiap tahun alih-alih terpaku pada peringkat tahun terpanas. Lagipula, penurunan kenaikan suhu bumi pada 2021 disebabkan oleh fenomena La Nina. Ini menyebabkan suhu permukaan laut Samudera Pasifik bagian tengah menurun.

Analisis dari C3S juga menyatakan bahwa emisi gas rumah kaca yang paling berpengaruh terhadap perubahan iklim seperti karbon dioksida dan metana pada tahun 2021 semakin meningkat. Tingkat karbon dioksida di atmosfer mencapai 414,3 ppm pada tahun 2021. Naik sekitar 2,4 ppm dari tahun 2020. Emisi gas rumah kaca ini bersumber dari pembakaran bahan bakar fosil seperti batubara dan minyak bumi. Sumber energi tersebut sebagian besar digunakan untuk industri dan pembangkit tenaga listrik.

Selain karbon dioksida, gas metana di atmosfer juga mengalami peningkatan dengan tingkat konsentrasi sebesar 1.900 ppb, naik sekitar 16.3 ppb dari tahun 2020. Namun, para ilmuwan belum mempelajari lebih lanjut penyebab dari peningkatan ini. Gas metana 80 kali lebih kuat dalam menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim daripada karbon dioksida. Sumber gas metana ini dapat berasal dari peternakan, pertanian, hingga sampah.

Aksi Iklim yang Lebih Ambisius

Untuk memenuhi target Perjanjian Paris dalam mencegah perubahan iklim, negara-negara di dunia pada 2021 telah berkumpul di KTT Perubahan Iklim COP 26. Konferensi ini dilaksanakan di Glasgow. KTT Perubahan Iklim COP 26 telah menghasilkan beberapa perjanjian. Hasilnya, 40 negara sepakat untuk beralih dari batubara. Lagi, 100 negara sepakat untuk mengakhiri deforestasi dan mengurangi gas metana sebesar 30% di tahun 2030.

Namun beberapa ilmuwan masih menilai bahwa beberapa perjanjian yang sudah ditandatangani di KTT Perubahan Iklim COP 26 belum bisa menyelesaikan masalah iklim. Misalnya, dalam Pakta Iklim Glasgow, disebutkan bahwa emisi gas rumah kaca harus dikurangi dan emisi karbon dioksida harus turun 45% pada tahun 2030. Akan tetapi, dengan perjanjian pengurangan emisi yang ada sekarang, ilmuwan menilai bahwa emisi justru akan meningkat hingga 14% pada tahun 2030.

Meskipun begitu, sebagai masyarakat kita harus tetap optimis. Kita bisa bergerak bersama mencegah dan mengatasi permasalahan iklim. Selanjutnya, kita terus menyuarakan aspirasi kita mengenai perubahan iklim.Tujuannya agar para pemangku kepentingan dapat memiliki komitmen yang lebih ambisius untuk menangani perubahan iklim. Kita juga bisa mencegah perubahan iklim melalui keseharian kita. Contohnya menjalankan gaya hidup yang sesuai dengan prinsip konsumsi dan produksi berkelanjutan. Usaha sederhana dalam kehidupan kita sehari-hari seperti mengurangi plastik sekali pakai dan penggunaan listrik. Itu bisa membantu mencegah perubahan iklim jika kita melakukannya secara bersama dan kolektif. Sebesar apapun usaha kita akan sangat berarti untuk bumi.

Referensi
  • https://www.aljazeera.com/news/
  • https://www.ecowatch.com/2021-fifth-warmest-year-on-record.html Diakses pada 13 Januari 2022
  • https://edition.cnn.com/
  • https://climate.copernicus.eu/sites/
  • https://www.space.com/
  • https://www.nature.com/
Ingin Terus Mendapatkan Informasi Terbaru Kami? Berlangganan Sekarang

Dengan berlangganan kamu telah menyetujui Kebijakan Privasi yang berlaku.

img 9429 cleanup

Mau up-date tentang kondisi lingkungan terkini?
Berlangganan sekarang!

Masukkan e-mailmu dan kami akan kirimkan berbagai informasi lingkungan menarik dan berbobot hanya untuk kamu, Generasi Hijau!

Dengan berlangganan kamu telah menyetujui Kebijakan Privasi yang berlaku.