ID
|
Potensi Energi Terbarukan di Indonesia

Potensi Energi Terbarukan di Indonesia

Foto 1. Energi Terbarukan Bahan Bakar Listrik (Kindle Media / Pexel)
Foto 1. Energi Terbarukan Bahan Bakar Listrik (Kindle Media / Pexel)

Daftar Isi

Indonesia masih mengandalkan sumber energi mineral seperti minyak bumi dan batu bara untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Masih banyak tantangan yang dihadapi untuk mulai beralih ke energi terbarukan yaitu, keterbatasan teknologi, sumber daya, regulasi dan kepentingan politik.

Padahal, untuk mencapai target pengurangan emisi di tahun 2030 sebanyak 29%, butuh transisi yang ambisius dari konsumsi dan produksi energi mineral ke energi terbarukan. Berdasarkan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), negara menargetkan penggunaan energi terbarukan secara nasional sebesar 23% di tahun 2025 dan 31% di tahun 2050.

Meskipun transisi masih dirasa cukup lambat, Indonesia telah memiliki beberapa pilihan energi terbarukan yang sedang dikembangkan dan akan terus dimaksimalkan. Jika kebanyakan dari kita umumnya hanya mengetahui sumber tenaga surya sebagai energi terbarukan, yuk kita cari tahu energi terbarukan lainnya untuk alternatif sumber energi yang kita gunakan di masa depan.

Panas Bumi

Foto 2. Geothermal di Indonesia (PLN)
Foto 2. Geothermal di Indonesia (PLN)

Panas bumi adalah sumber energi yang memanfaatkan panas bumi yang tersimpan dalam inti bumi. Indonesia memiliki 40% cadangan energi panas bumi dunia. Panas bumi telah digolongkan sebagai  energi ramah lingkungan oleh pemerintah yang masih harus digenjot pengembangannya. Ini diatur dalam Undang-Undang RI Nomor 21 Tahun 2017.

Proses pengolahan panas bumi terbagi menjadi dua sesuai dengan sumbernya. Panas bumi yang sumbernya langsung berupa uap air tidak membutuhkan proses panjang untuk jadi listrik. Uap air bisa langsung dialirkan ke turbin pembangkit listrik. Uap yang dihasilkan masih bisa didaur ulang dengan proses kondensasi air untuk jadi uap lagi.  Sebaliknya, panas bumi yang bersumber dari mata air panas harus melalui proses penguapan menggunakan heat changer agar uap dapat menghasilkan tenaga listrik.

Sumber energi ini memiliki beberapa keunggulan yaitu ramah lingkungan, jumlahnya tak terbatas, tersedia setiap saat, dan harga terjangkau. Namun, di sisi lain, biaya investasi pembangunan cukup besar yang juga menghambat pengembangan pemanfaatan energi ini. Selain itu, dampak penggunaan lahan dan limbah yang dihasilkan juga harus diminimalisir untuk memperkecil dampak linkungan.

Mikro Hidro

Foto 3. Mikro Hidro (Rimbakita.com)
Foto 3. Mikro Hidro (Rimbakita.com)

Air adalah salah satu elemen alami yang juga bisa dimanfaatkan sebagai energi terbarukan untuk suplai listrik. Umumnya, air dimanfaatkan sebagai sumber energi dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Namun, karena kontroversi dampak lingkungan dari pembangunan PLTA, mikro hidro dikembangkan untuk meminimalisir dampak lingkungan sumber energi tenaga air.

Mikro hidro adalah sistem pembangkit listrik tenaga air skala kecil yang dapat menghasilkan listrik sebanyak 5 kW-1 MW per Unit. Mikro hidro memanfaatkan jatuhan air dari tempat tinggi ke rendah untuk menggerakkan turbin. Putaran turbin menghasilkan energi rotasi yang diubah menjadi energi listrik oleh generator. Sistem ini biasa diaplikasikan di saluran irigasi dan sungai.

Sumber energi ini memiliki beberapa keunggulan dan kelemahan. Keunggulannya adalah efisien, murah, dan minim emisi. Meskipun banyak keunggulan, solusi ini memiliki beberapa kelemahan yaitu memerlukan banyak transmisi untuk transfer listrik ke konsumen disekitarnya dan ketersediaanya tergantung pada volume air yang melalui turbin.

Energi Surya

Foto 4. PLTS Milik PT. Hutama Karya Andalan Energi Terbarukan (Susanto / Media Indonesia)
Foto 4. PLTS Milik PT. Hutama Karya Andalan Energi Terbarukan (Susanto / Media Indonesia)

Pemanfaatan energi surya tentunya tidak asing lagi untuk kita. Namun, untuk penerapannya masih belum merata di Indonesia. Dari sekian banyak bangunan, sudah berapa yang kamu temui menggunakan panel surya? Pada periode Januari-September 2021, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan ada peningkatan realisasi hasil Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dari 13,4 MW di tahun 2020 jadi 17,88 MW. Masih butuh banyak upaya untuk memaksimalkan potensi tenaga surya yang mencapai 3.294 GW.

Energi surya dapat diubah menjadi listrik dengan dua cara yaitu dengan menggunakan termal surya dan panel surya (fotovoltaik). Termal surya menggunakan teknologi Concentrated  Solar  Thermal (CST) berbentuk cermin parabola yang bisa berotasi mengikuti arah cahaya matahari. Alat tersebut menyerap radiasi yang diubah menjadi uap yang akan menggerakkan turbin untuk menghasilkan listrik.

Fotovoltalik memiliki proses yang lebih sederhana karena dapat langsung mengubah energi surya menjadi listrik menggunakan sel surya. Teknologi ini lebih populer dan banyak digunakan di dunia. Energi diubah menjadi listrik dengan mempertemukan silikon N sebagai konduktor dan silikon P sebagai isolator untuk membentuk medan listrik.

Tenaga Angin

Foto 5. PLTB Sidrap
Foto 5. PLTB Sidrap

Energi angin juga merupakan energi bersih yang dapat menjadi alternatif energi fosil. Pemerintah menargetkan untuk mengembangkan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) sebesar 255 MW di tahun 2025. Indonesia memiliki PLTB Sidrap di Sulawesi Selatan yang memiliki 30 kincir angin yang menghasilkan listrik sebesar 75 Mega Watt.

Energi listrik diperoleh dari angin yang menggerakkan turbin secara stabil dan cepat. Ini menghasilkan putaran yang menggerakkan generator yang berfungsi untuk merubah energi gerak jadi energi listrik. Energi listrik yang dihasilkan lalu dialirkan ke konsumen melalui transmisi.

Memanfaatkan tenaga angin adalah salah satu solusi yang efisien, ramah lingkungan, dan terjangkau. Namun, tetap memiliki beberapa kekurangan seperti penggunaan lahan yang luas dan hanya bisa diterapkan di wilayah tertentu yang memiliki intensitas angin yang stabil, contohnya seperti di pesisir pantai.

Bioenergi

Foto 6. Biogas Inovasi Energi Terbarukan (Agromedia.net)
Foto 6. Biogas Inovasi Energi Terbarukan (Agromedia.net)

Bioenergi adalah energi terbarukan yang janji solusinya cukup kontroversial. Banyak ilmuwan yang beranggapan bahwa bioenergi dapat menimbulkan masalah lingkungan baru seperti deforestasi, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga ancaman ketahanan pangan. Namun, tak sedikit juga yang kontra dengan anggapan tersebut dan beranggapan bahwa bioenergi memiliki potensi yang besar sebagai energi terbarukan jika dikembangkan dengan benar. Salah satu kontroversi yang muncul adalah pembuatan biofuel berbahan dasar minyak kelapa sawit yang banyak ditentang ilmuwan internasional.

Melihat fakta ini, apakah benar bioenergi sama sekali bukan solusi? Adakah pilihan sumber lainnya bisa jadi solusi yang lebih ramah lingkungan?

Bioenergi adalah listrik, bahan bakar, atau gas yang diproduksi dengan mengolah bahan organik seperti kayu, tumbuhan, limbah hingga makanan.  Duhulu, penggunaan bionergi banyak digunakan di Indonesia, yaitu memasak menggunakan kayu bakar. Jika kamu tidak sepakat untuk mengembangkan bioenergi seperti biofuel yang berbahan dasar kelapa sawit, bioenergi yang terbuat dari daur ulang limbah bisa jadi pilihan yang lebih baik dalam pengembangan energi terbarukan.

Bioenergi berbahan limbah mengubah limbah pertanian, peternakan, hingga rumah tangga jadi beragam sumber energi seperti listrik, bahan bakar, dan gas. Limbah dapat diolah menjadi energi dengan proses insinerasi (oksidasi bahan organik ke anorganik), pirolisis (Pemanasan bahan secara anaerob), dan gasifikasi (pembakaran bahan padat jadi gas secara aerob).

Daur ulang limbah tersebut baik untuk bisa menyelesaikan dua masalah sekaligus yaitu pengelolaan sampah dan energi kotor. Potensi besar sampah membuat pemerintah Indonesia membangun 9 Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).

Dari penjelasan di atas, kita telah membongkar seluk-beluk potensi energi terbarukan di Indonesia. Kayanya potensi ini berpeluang menjadikan indonesia sebagai lumbung energi terbarukan. Seluruh pihak harus mendukung dan mengkritisi setiap solusi yang muncul agar energi terbarukan benar-benar berdampak minim bagi lingkungan.

Apapun posisi kita baik pemerintah, konsumen, maupun produsen energi terbarukan harus memegang teguh nilai konsumsi dan produksi berkelanjutan untuk Indonesia bebas emisi. Penasaran bagaimana konsumsi dan produksi berkelanjutan diterapkan di berbagai sektor? Klik untuk makin pintar!

Referensi
Ingin Terus Mendapatkan Informasi Terbaru Kami? Berlangganan Sekarang

Dengan berlangganan kamu telah menyetujui Kebijakan Privasi yang berlaku.

img 9429 cleanup

Mau up-date tentang kondisi lingkungan terkini?
Berlangganan sekarang!

Masukkan e-mailmu dan kami akan kirimkan berbagai informasi lingkungan menarik dan berbobot hanya untuk kamu, Generasi Hijau!

Dengan berlangganan kamu telah menyetujui Kebijakan Privasi yang berlaku.